Tampilkan postingan dengan label Biru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biru. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2009

Rana Cahaya

Dering tak berasa lagi di gendang telinga. Suara takkan mampu menjadi kalimat pemusnah.. Aku diam dan tak ada lagi detak kehidupan!

Semakin lama masa akan menjadi masalah. Kedamaian dan peperangan menuju jalan jagad raya.. Aku diam dan melihatnya dengan sudut keindahan!

Tiap manusia mencela satu sama lain. Saling menikam dari arah mana saja. Dentumannya merobohkan setiap hujan di bulan ini.. Aku diam dan menatapnya dengan petir di dadaku!

Setiap manusia punya arah dan tujuan. Setiap yang ada akan menjadi tiada. Setiap senyuman sangatlah berarti.. aku diam dan menjaga hati dalam dimensi rana cahaya!

Senin, 13 Juli 2009

Cinta Sejati

Ingin kuhabiskan waktuku bersamamu. Menjadi kekasih hati disaat tuaku nanti. Membangun kebahagian sejati.

Jauh dari kebisingan. Keluar dari rutinitas tak bertuan. Menjadi hedonis...

Apa aku bisa.
Apa aku Mampu.

Kadang semua yang pernah ada sangatlah menjenuhkan...
Semua yang terlihat tak seindah dulu...
Aku melihat semua dengan tangis!!
Saat kuasa-Nya tak bisa ku bendung.

Tuhan Izinkan aku di jalan-Mu.

Senin, 20 April 2009

SAYATAN PULAU PENJALIRAN

Ruangan terasa asing di sebuah rumah tua. Rumah dengan ventilasi yang hanya selebar bunga karang. Sudut ruangan nampak kelam di makan usia. Dinding-dindingnya yang telah berlumut, dengan jajaran puing-puing sampah yang berserakan di lantai.

Aku meronta kesakitan. Rantai yang menyelubungi tanganku, seakan bertambah kuat, kala kucoba lepaskan ikatannya.

Dimana aku kini. Teriakanku hanya menjadi rongrongan bisu. Tanpa ada yang mendengar. Tanpa ada yang tahu.

Tiba-tiba datang seseorang. Dia berparas lusuh, bertopi, tubuhnya yang tegap seolah menyembunyikan kerutan dari usianya yang sudah tua. Dia berjalan mendekatiku, dan terus mendekatiku, sampai hanya kakinya yang tak beralas ada di pandanganku.

”Auch, tolong, ampun, auch, ampuunn!”. ucapku saat dia menyiksaku. Tanpa sebab yang jelas aku menjadi bulan-bulanan dari kepalan tangannya. Aku di seret, di tendang, di pukul sampai tubuhku tak berdaya.

”Apa salahku? apa dosaku? Kenapa kau siksa aku?.” Gerutuku dalam hati, karena mulutku sudah tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Aku di seretnya keluar ruangan. Di tarik ke atas langit-langit rumah. Nampak jelas oleh kedua mataku, dia mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya.

Wajahnya yang seram seakan hendak menikamku. Dia membalikkan tubuh krempengku yang telanjang dada. Aku tak mampu lagi menatap wajahnya.

”Auuuch!”. Kala dia menyayat kulitku dari atas ke bawah dari punggungku.

”Auuuuch, Ampunnn, Auuuuuuuch!”. Kedua kalinya dia menyayatku.

”Auuch!”. Sayatan yang ketiga kalinya, aku terbangun dari tidur siangku. Kemudian aku terdiam, lalu aku beranjak keluar dari rumah itu. Rumah tersebut adalah rumah tua tempat aku bekerja, rumah yang terletak di pulau Penjaliran.

Kemudian aku duduk di atas bongkahan kayu di depan rumah. Tubuhku masih bercucuran keringat. Rasa sakit di punggung jelas masih ada, namun luka sayatan itu tidak ada. Hanya rasa sakit saja yang masih terasa.

Jumat, 10 April 2009

Jalur Sungai di Pedalaman

Jauh dari daratan nampak elok. Hijau tanpa gedung-gedung bertingkat. Di ketinggian pulau Kalimantan kutatap dari kaca burung besi ini.

Tak pernah ku mengerti, 2 tahun yang lalu aku ketempat ini lewat jalur laut. Namun layaknya burung terbang di angkasa, satu jam saja kakiku sudah berada di sini.

Kulalui sendiri dengan tujuan yang nampak jelas nan bercahaya. Kulipat setiap guratan mata di setiap ujung jalan.

Beda dengan di Jawa, tranportasi dengan perahu merupakan ciri khas daerah bersungai. Jalur demi jalur dipenuhi dengan jembatan. Sang pemangsa pun selalu tersenyum mengitari perjalanan ini. Predator utama, sang elang.

Ikan sungai menjadi fokus bagi sang elang. Memangsa demi keseimbangan ekosistem. Lain halnya dengan manusia, yang terus-menerus memangsa hanya demi perut yang buncit.

Kokoh nan anggun burung ini, tak kenal lelah menemani setiap petualanganku di Kalimantan.

Namun saat ku lihat manusia diseberang hutan, di liang pedesaan yang jauh dari kota. Nampak jelas raut muka nan muram. Tak sanggup aku menatapnya, seolah di kebiri oleh bangsanya sendiri.

Menata bibit sawit, jauh dari keluarga, bekerja dan bekerja. Tidak ada kampus, tidak ada Mal, Tidak ada landasan pesawat terbang, dan gedung-gedung menjulang tinggi. hanya di temani keringat dan harapan akan masa depan.

Mereka berjuang dalam hidup, demi sesuap nasi, seuntai cita sang anak mereka. Jauh di pedalaman, aku menanyakan tentang keadilan. Keadilan yang selama ini selalu aku dengarkan, bahkan aku hafalkan mulai dari kecil. "KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDOSESIA."
(10 April 2009)

Kamis, 02 April 2009

Malaikat Jalanan

Kesadaran akan eksistensi yang semakin rapuh. Dalam perjalanan sunyi tak henti-hentinya aku berpikir akan kekuasaan Sang Pencipta. Mungkin ini entitas atau bagian hampa semata.

Di kota semarang, Jawa tengah. Dalam perjalanan pencarian fakta. saya berada di ruang penuh gedung-gedung. Tidak tahu harus kemana lagi. Saat pagi menjelang, kebimbangan dalam kesendirian.

Aku rapikan setiap rongsokan tubuh ini. Mulai ku buka pintu, dan keluar. Hari ini aku harus bergegas mencari berita, kepada lembaga pemerintahan di sana.

Masih pagi, jarum jam menunjukkan pukul 6 waktu Indonesia bagian barat. Aku naik Bis kecil yang menuju ke kota bagian barat, masih di kota Semarang. Aku masih baru disini, aku di putar-putar bak anak kecil bermain gasing. sampai tiba sang Ibu datang.

Ibu penjual kopi, di tengah kota. Kulihat dia sendiri, nampak membersihkan sisa-sisa kotoran di atas piring dan gelas. Pelan aku menuju dia, dan membeli secangkir kopi. Dengan lembut sang Ibu tersebut membuatkan kopi.

Sembari beliau melihatku aneh, karena saat itu aku seperti orang tak tahu arah. "Mau kemana Dik?"(Sahut sang IBu.

Aku menjawab," Saya mau ke Dinas Kehutanan, di Jalan Dr Soetomo?". "Langsung saja naik bis kuning, nanti lewat sini, tunggu saja bentar?"(jawab sang Ibu, sembari menunjukkan arah tujuanku)

Jauh di dalam hati, aku tersenyum. Tiba-tiba gelas yang berisi kopi, tepat di samping aku jatuh. Seketika aku minta maaf, kemudian aku keluarkan uang 5ribu untuk mengganti gelas yang pecah.

Namun Ibu tersebut menolak uang lima ribu yang aku berikan. beliau berkata:" harga gelas ini cuma 1500 mas, Jadi 1500 saja".

Selama aku di perjalanan belum ada seorang yang seperti itu. Seorang Ibu yang hanya berjualan kopi, namun sangat jujur dan menghormati orang yang jauh dan belum dia kenal.

Andai beliau membaca tulisan ini, aku ingin berucap terima kasih. Ibu adalah orang mulia di Sisi tuhan.

Nulis pesan di sini.....


ShoutMix chat widget