Perlahan semua begitu cepat adanya. Setiap ada akan membawa ketiadaan dan begitu sebaliknya. Semua terasa indah...
Ego menjadi raja. Menguasai jelajah malam. Membutakan setiap kalimat demi kalimat.
Kutuju hanya ranamu. Dalam peluk susah dan senang. Ku nanti masa itu, Masa kita berbagia.
Namun sampai kini aku masih melihat sebuah ego. Aku menatap kebencianmu. Pintaku hanya satu, kejujuran.
Tampilkan postingan dengan label Merah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Merah. Tampilkan semua postingan
Kamis, 01 Oktober 2009
Sabtu, 12 September 2009
Rebahan Kekasih
Di pelukku ku rasakan damaiku
Di sampingku kau luluhkan kisahku
Senyum yang teringat dalam setiap manismu
Rasa yang terangkum dalam cinta kita
Berucap diam namun penuh makna
Paras yang tak ku lupa
Setiap waktu bisu tanpamu
Kau redakan ego petualanganku
Aku biarkan semua masa berlalu
Bersama tujuan kehidupan kita
Masa baru yang penuh rahasia
Meski waktu yang akan menuntun kita dalam jalan-Nya.
Di sampingku kau luluhkan kisahku
Senyum yang teringat dalam setiap manismu
Rasa yang terangkum dalam cinta kita
Berucap diam namun penuh makna
Paras yang tak ku lupa
Setiap waktu bisu tanpamu
Kau redakan ego petualanganku
Aku biarkan semua masa berlalu
Bersama tujuan kehidupan kita
Masa baru yang penuh rahasia
Meski waktu yang akan menuntun kita dalam jalan-Nya.
Labels:
Merah
Selasa, 25 Agustus 2009
Kamu Hidupku
Tidakkah kamu mengerti betapa sakitnya saat engkau jauh. Tapi aku gak bisa maksa dengan keadaan kita.
Ingin aku menata ruangku dengan dimensi cinta yang berbeda pada-Nya.
Ku sambut hari demi hari dengan keindahanmu. Merajut hari tanpa batas.
Saat bersamamu aku merasakan kebahagian. Betapa bahagia aku di dekatmu. Baru pertama kali aku merasakan cinta yang begitu dalam.
Sering aku keluar dari cinta itu. Menjauh dan pergi. Namun aku tak mampu.
Keadaan tanpa ada jawab. Keadaan dengan rasa takutmu. Hanya akan membuatku terus kesakitan.
Tapi aku tidak ingin mendapatkanmu. Aku sudah berjanji akan mengikhlaskanmu. Namun rasa ini kian menyiksaku.
Dahulu aku sangat membenci rasa cinta terhadap kaummu. Bagiku itu bukanlah hidup. Sampai tiba aku mengerti bahwa cinta tidak bisa dikendalikan.
Di dekatmu adalah kebahagiaan.
Di sampingmu adalah kehidupan.
Di sisimu aku merasakan keindahan.
Aku akan menunggu sampai tiba waktunya. Bersamamu atau mati karena keadaaan hari ini.
Ingin aku menata ruangku dengan dimensi cinta yang berbeda pada-Nya.
Ku sambut hari demi hari dengan keindahanmu. Merajut hari tanpa batas.
Saat bersamamu aku merasakan kebahagian. Betapa bahagia aku di dekatmu. Baru pertama kali aku merasakan cinta yang begitu dalam.
Sering aku keluar dari cinta itu. Menjauh dan pergi. Namun aku tak mampu.
Keadaan tanpa ada jawab. Keadaan dengan rasa takutmu. Hanya akan membuatku terus kesakitan.
Tapi aku tidak ingin mendapatkanmu. Aku sudah berjanji akan mengikhlaskanmu. Namun rasa ini kian menyiksaku.
Dahulu aku sangat membenci rasa cinta terhadap kaummu. Bagiku itu bukanlah hidup. Sampai tiba aku mengerti bahwa cinta tidak bisa dikendalikan.
Di dekatmu adalah kebahagiaan.
Di sampingmu adalah kehidupan.
Di sisimu aku merasakan keindahan.
Aku akan menunggu sampai tiba waktunya. Bersamamu atau mati karena keadaaan hari ini.
Labels:
Merah
Minggu, 23 Agustus 2009
Takkan Bisa Tanpamu
Setiap kali Air menjauhi Api. Saat-saat tersebut serasa alam terkikis tak menentu. Serasa hilang, tanpa sadar, dalam bayang jauh.
Kusadar setiap keberadaanmu sangat berarti. Meski aku tak sanggup lagi menjadi tinta dalam buku putihmu. Jauh kuberharap banyak, dengan kisah manis pahitmu dalam menghiasi dinding rasaku. Namun kusadar hatimu dan kasihmu bukan untukku, tapi mata indahmu tak bisa membohongiku jika engkau juga menyayangiku.
Ingin aku berkomitmen. Aku sengaja menjatuhkan diriku pada detak jantungmu. Kini hari-hariku hanya ada satu perempuan, yaitu perempuan yang selalu menolak setiap kali aku ucap sayangku kepadanya.
Kusadar setiap keberadaanmu sangat berarti. Meski aku tak sanggup lagi menjadi tinta dalam buku putihmu. Jauh kuberharap banyak, dengan kisah manis pahitmu dalam menghiasi dinding rasaku. Namun kusadar hatimu dan kasihmu bukan untukku, tapi mata indahmu tak bisa membohongiku jika engkau juga menyayangiku.
Ingin aku berkomitmen. Aku sengaja menjatuhkan diriku pada detak jantungmu. Kini hari-hariku hanya ada satu perempuan, yaitu perempuan yang selalu menolak setiap kali aku ucap sayangku kepadanya.
Labels:
Merah
Minggu, 16 Agustus 2009
Menghilang dan Menjauh, Kemudian?
Tiada yang lebih indah dari hari ini. Aku pikir dengan jauh aku bisa tenang. Aku pikir dengan menghilang aku bisa damai. Kekuatan cinta memang takkan pernah sirnah.
Sering aku mencoba berada pada ambang batas cintanya. Aku tahu itu sulit. Aku tahu itu tidak mungkin. Terkadang aku lemah dan terhempas sampai semua terasa sesak.
Sumber jiwa dan langitku. Jangan pernah tinggalkan alam fanaku. Biarkan aku didekatmu. Biarkan aku menyayangimu...
Sering aku mencoba berada pada ambang batas cintanya. Aku tahu itu sulit. Aku tahu itu tidak mungkin. Terkadang aku lemah dan terhempas sampai semua terasa sesak.
Sumber jiwa dan langitku. Jangan pernah tinggalkan alam fanaku. Biarkan aku didekatmu. Biarkan aku menyayangimu...
Labels:
Merah
Rabu, 12 Agustus 2009
Saat Aku Memutuskan Nasibku Sendiri
Sudah lama aku menantikan masa ini. Masa yang tak pernah aku mengerti. Masa yang teramat sulit untuk di definisikan.
Semua yang ada hanyalah ketiadaan. Persembunyian bukanlah diriku. Bebas terbang tanpa ada pengikat ketajaman bagi sang penakluk. Hati telah menyatu dalam raga tak berdaging. Merangkak dan mencoba mengartikan keberadaan tanpa nafsu. Tapi, aku bukanlah malaikat, dan aku tidak ingin seperti malaikat.
Dua hal bergelayut, kala malam tiba. Sejuta makna aku dapatkan dari hari-hari kebisuan. Disini dan disana adalah sama. Mentalitas yang tak kunjung mematikan setiap pengganggu dalam kecerobohan dalam mengenal-Nya. Kau disana dan aku disini sama saja.
Terbias sudah kini. Kupustuskan aku adalah aku. Dan aku adalah aku. Aku adalah aku, dan bukan kamu atau kalian. Namun, aku persembahkan hidupku untuk semua yang pernah singgah dalam petualangan dinamisasi hidupku
Semua yang ada hanyalah ketiadaan. Persembunyian bukanlah diriku. Bebas terbang tanpa ada pengikat ketajaman bagi sang penakluk. Hati telah menyatu dalam raga tak berdaging. Merangkak dan mencoba mengartikan keberadaan tanpa nafsu. Tapi, aku bukanlah malaikat, dan aku tidak ingin seperti malaikat.
Dua hal bergelayut, kala malam tiba. Sejuta makna aku dapatkan dari hari-hari kebisuan. Disini dan disana adalah sama. Mentalitas yang tak kunjung mematikan setiap pengganggu dalam kecerobohan dalam mengenal-Nya. Kau disana dan aku disini sama saja.
Terbias sudah kini. Kupustuskan aku adalah aku. Dan aku adalah aku. Aku adalah aku, dan bukan kamu atau kalian. Namun, aku persembahkan hidupku untuk semua yang pernah singgah dalam petualangan dinamisasi hidupku
Labels:
Merah
Lintasan Ikhlas
Sendiri dalam kelamnya hari di pulau sejuta kisah. Rimbun bingkai katulistiwa. Terjerabut akar pemikiran hati. Selaras panjangnya desir pantai. Terawangku jauh di keluarga. Nampak deru awan hitam saat tangan aku lepas. Saatnya ku tapaki setiap peribadatanku di perjalanan nafas hidup.
Disisi kanan harapan. Duduk di sebelah ranting dahan tanaman bakau. Ombak menggeliat kecil menyisir setiap detik. Jauh di atas sana, langit tersemai dalam gelombang jatuh tak berdaya.
Tubuh ku bersayap. Mengitari masa-masa lalu. Menjauh di persimpangan ideologi. Menjauh dalam segala atas nama agama dan negara. Menjauh dari lubang penuh duka.
Melayang-layang di atas biosfer. Semua nampak kecil, tak berarti. Semua hanyalah untaian pergulatan drama romantika.
Bumi berumur. Tua rentah dalam emosional amarah. Beribu bencana telah di kobarkan. Sejuta harapan tak mampu di cerna binatang berakal. Aku terdiam disini dan hanya menjauh. Selangkah lagi adalah kosong. Selangkah lagi adalah keniscayaan.
Lintasan ini teramat menyesatkan. Namun, aku berbahagia. Lintasan ini adalah jalan bagi sang petualang. Berjalan menapaki setiap perihnya arah lintasan keikhlasan.
Disisi kanan harapan. Duduk di sebelah ranting dahan tanaman bakau. Ombak menggeliat kecil menyisir setiap detik. Jauh di atas sana, langit tersemai dalam gelombang jatuh tak berdaya.
Tubuh ku bersayap. Mengitari masa-masa lalu. Menjauh di persimpangan ideologi. Menjauh dalam segala atas nama agama dan negara. Menjauh dari lubang penuh duka.
Melayang-layang di atas biosfer. Semua nampak kecil, tak berarti. Semua hanyalah untaian pergulatan drama romantika.
Bumi berumur. Tua rentah dalam emosional amarah. Beribu bencana telah di kobarkan. Sejuta harapan tak mampu di cerna binatang berakal. Aku terdiam disini dan hanya menjauh. Selangkah lagi adalah kosong. Selangkah lagi adalah keniscayaan.
Lintasan ini teramat menyesatkan. Namun, aku berbahagia. Lintasan ini adalah jalan bagi sang petualang. Berjalan menapaki setiap perihnya arah lintasan keikhlasan.
Labels:
Merah
Senin, 10 Agustus 2009
Lintasan Terakhir Sang Petualang
Menjauh dari hiruk-pikuk kepakan sayap-sayap
Melangkah sendiri di tengah gurun
Merobohkan tirani
Mengenakan jubah Air Sunyi
Gelombang badai tak surut menghantam
Gendang telinga mulai robek
Gersang dalam dinamis
Galau kala malam
Jangan kau peksakan
Merubah bukan perubahan
Kembali bukan jalan
dan Hari ini adalah kepastian
Melangkah sendiri di tengah gurun
Merobohkan tirani
Mengenakan jubah Air Sunyi
Gelombang badai tak surut menghantam
Gendang telinga mulai robek
Gersang dalam dinamis
Galau kala malam
Jangan kau peksakan
Merubah bukan perubahan
Kembali bukan jalan
dan Hari ini adalah kepastian
Labels:
Merah
Minggu, 19 Juli 2009
Telaga Putih
Setiap gending berkumandang
Kulalui masaku tanpa adanya
Merintih sepanjang hayat
Tatkala jawab tak berarti
Dalam penantian yang sama
Beragam cara telah aku buat
Detik setiap detik
Waktu berpikir adanya
Jalan menjadi hitam
Kelam oleh derasnya arus
Aku masih menunggu disini
selalu ada dalam lirihnya
Setiap harapan terlahir sunyi
Hanya ingin bersamamu di telaga putih
Kulalui masaku tanpa adanya
Merintih sepanjang hayat
Tatkala jawab tak berarti
Dalam penantian yang sama
Beragam cara telah aku buat
Detik setiap detik
Waktu berpikir adanya
Jalan menjadi hitam
Kelam oleh derasnya arus
Aku masih menunggu disini
selalu ada dalam lirihnya
Setiap harapan terlahir sunyi
Hanya ingin bersamamu di telaga putih
Labels:
Merah
Kamis, 16 Juli 2009
Aku Biarkan Saja
Aku biarkan dia menyiksaku dengan jawabannya. Aku biarkan dia mendekatiku dengan tugas-tugasnya. Aku biarkan setiap waktu berpikir tentangnya. Aku biarkan dia menjadi milik orang lain.
Aku begitu mencintainya, namun aku biarkan. Aku sudah berucap di telinganya, namun dia biarkan. Kemudian ketidakpastian akan menjadi jalan-jalan pesakitan.
Aku sudah tak punya tujuan kecuali adanya dia. Semua yang berlalu kini hanya jalan bagi kehidupanku selanjutnya. Aku tertawa tapi keluar air mata, Aku menangis tapi berlimpah kebahagiaan.
Sampai kapanpun aku biarkan apa yang menjadi pilihannya. Pilihanku hanya waktu demi waktu dalam kubangan jalan-Nya. Aku menuju ruang tanpa batas. Aku menjalankan semua tanpa rasa lagi... keluar dari entitas manusia dan masuk dalam lintas jalan-Nya.
Aku begitu mencintainya, namun aku biarkan. Aku sudah berucap di telinganya, namun dia biarkan. Kemudian ketidakpastian akan menjadi jalan-jalan pesakitan.
Aku sudah tak punya tujuan kecuali adanya dia. Semua yang berlalu kini hanya jalan bagi kehidupanku selanjutnya. Aku tertawa tapi keluar air mata, Aku menangis tapi berlimpah kebahagiaan.
Sampai kapanpun aku biarkan apa yang menjadi pilihannya. Pilihanku hanya waktu demi waktu dalam kubangan jalan-Nya. Aku menuju ruang tanpa batas. Aku menjalankan semua tanpa rasa lagi... keluar dari entitas manusia dan masuk dalam lintas jalan-Nya.
Labels:
Merah
Senin, 06 Juli 2009
Senandung Malam
Jiwa sang pelantun nada indah
Beranjak di keheningan kata-kata
Meluangkan kasih putih
Dalam malam
Malam dan malam
Kudengar detak jantungmu
Kusemai sebuah arti keindahan
Kubawa engkau ke alam Nirwana
Jiwaku rentan tanpamu
Pergi dan kembali
Dejavu bagi pelindung malam
Bergejolak tatkala Senyum menggaris
Aku ingin berada pada ada
Kau letih
Kau terkikis
Kau terluka
Karena datangku
dan semua kata-kata ku
Tak ada niat membuatmu terbang ke alamku...
Beranjak di keheningan kata-kata
Meluangkan kasih putih
Dalam malam
Malam dan malam
Kudengar detak jantungmu
Kusemai sebuah arti keindahan
Kubawa engkau ke alam Nirwana
Jiwaku rentan tanpamu
Pergi dan kembali
Dejavu bagi pelindung malam
Bergejolak tatkala Senyum menggaris
Aku ingin berada pada ada
Kau letih
Kau terkikis
Kau terluka
Karena datangku
dan semua kata-kata ku
Tak ada niat membuatmu terbang ke alamku...
Labels:
Merah
Sabtu, 04 Juli 2009
oh indahnya...
Tiada yang lebih indah dari hari ini... semua telah berubah.
Binar matanya, rona merahnya... oh indahnya.
Ku ucap rasa syukur... sujud aku di hadapNya.
Pagi ini. seperti pagi tiada henti... semua begitu sempurna.
Tanpa ada lagi harap dan tanya... semua penuh warna, pagi ini.
Semoga anda juga seperti itu...
Menyelami indahnya embun pagi......tanpa bising manusia!
Binar matanya, rona merahnya... oh indahnya.
Ku ucap rasa syukur... sujud aku di hadapNya.
Pagi ini. seperti pagi tiada henti... semua begitu sempurna.
Tanpa ada lagi harap dan tanya... semua penuh warna, pagi ini.
Semoga anda juga seperti itu...
Menyelami indahnya embun pagi......tanpa bising manusia!
Labels:
Merah
Kekasih Hati...
Kutikam setiap masa. Berlalu tanpanya lagi. Setiap pagi adalah pagi. Malam hanya menjadi malam. Rutinitas adalah kepastian. Akifitas bagian dari kematian.
Pasukan bertopeng mulai bermunculan dimana-mana. Tersenyum, tertawa, terbahak-bahak setiap waktu.
Gerombolan pembohong bermunculan dimana-mana, Sembari menikam sahabat-sahabatnya.
"Memalsukan, dipalsukan adalah kebiasaan." Bangga lagi, ketika melakukannya.
Keadaan menjadi alasan!!! Musuhnya senantiasa menjadi sahabat dekat otak kanannya.
Kebenaran atas orang lain telah mendarah daging.
Begitulah alam semesta dalam mencintai kekasih hatinya...
Pasukan bertopeng mulai bermunculan dimana-mana. Tersenyum, tertawa, terbahak-bahak setiap waktu.
Gerombolan pembohong bermunculan dimana-mana, Sembari menikam sahabat-sahabatnya.
"Memalsukan, dipalsukan adalah kebiasaan." Bangga lagi, ketika melakukannya.
Keadaan menjadi alasan!!! Musuhnya senantiasa menjadi sahabat dekat otak kanannya.
Kebenaran atas orang lain telah mendarah daging.
Begitulah alam semesta dalam mencintai kekasih hatinya...
Labels:
Merah
Air Sunyi
Menghilang lebam jenaka
Menari di terik lentik tangan kirinya
menapak sang "sunyi"
Air?
Hanyut sudah
Gelombang melibas dengan cinta
Tali yang mengikatnya terlepas
"Bebas liar"
Tertera dalam selembar naskah jawab
Tersemai dalam kelam
Hilang dan terhilang, jauh menjauhi
Beranjak dengan kaki-kaki
Tak tentu yang berangan
Terasa letih lelah dalam angan
menaburkan kesunyian panjang
Saat tiba
Tanpa sadar
Langit sudah tak bertuan
Dan pergi dengan seutas senyum...
http://www.facebook.com/fauzing?ref=name#/fauzing?v=app_2347471856
Menari di terik lentik tangan kirinya
menapak sang "sunyi"
Air?
Hanyut sudah
Gelombang melibas dengan cinta
Tali yang mengikatnya terlepas
"Bebas liar"
Tertera dalam selembar naskah jawab
Tersemai dalam kelam
Hilang dan terhilang, jauh menjauhi
Beranjak dengan kaki-kaki
Tak tentu yang berangan
Terasa letih lelah dalam angan
menaburkan kesunyian panjang
Saat tiba
Tanpa sadar
Langit sudah tak bertuan
Dan pergi dengan seutas senyum...
http://www.facebook.com/fauzing?ref=name#/fauzing?v=app_2347471856
Labels:
Merah
Rabu, 10 Juni 2009
Wait Uncertainty
Menunggu ketidakpastian... Semua yang berujung pada haraapan selalu saja hilang. Keinginan untuk bersama pun sirnah sudah... Dia sayang, namun itu palsu.
Kenangan kedamaian ketika bersamanya seakan menjadi kisah saja, cerita saja. Tanpa di sadar aku akan menjauhinya, jika benar itu keinginannya. Namun sisa cinta ini tak bisa ku hapus, entah kenapa aku bisa seperti ini.
Yang ku anggap kekasihku telah pergi. Dia pun menjauh dan menjauh, aku tak bisa lagi menggapainya.
Kenangan kedamaian ketika bersamanya seakan menjadi kisah saja, cerita saja. Tanpa di sadar aku akan menjauhinya, jika benar itu keinginannya. Namun sisa cinta ini tak bisa ku hapus, entah kenapa aku bisa seperti ini.
Yang ku anggap kekasihku telah pergi. Dia pun menjauh dan menjauh, aku tak bisa lagi menggapainya.
Labels:
Merah
Rabu, 29 April 2009
Daftar Hitam
Di seberang jalan, redup oleh hitamnya malam. Lampu-lampu menemani kita, dengan nikotin dan kafein. Jalanan hanya di jajaki oleh para penjaja riski. Tanpa ada lagi padat lalu-lalang, bagi kepulan asap hitam.
Alam pikiran kita menyatu. Mimpi harus menjadi realitas agar tidak menggantung. Jutaan ketakutan takkan mampu menggoyahkan mimpi kita.
“Kita harus menuntut fasilitas?”, Ujar sahabatku dari Lamongan.
“Kita butuh Dosen yang profesional?, Kata kawanku dari Bojonegoro.
“Masak laboratorium kita kalah dengan SMA?, Lanjut temanku dari Sidoarjo.
Sahabatku yang berasal dari Ngawi tak mau kalah juga, “Statuta kita ngambang, nanti mau jadi apa kalo kita lulus?”. Kemudian kawan dari madiun menyatakan bahwa, “kita harus menuntut Dekan untuk bertanggung jawab?.”
Ketidakadilan yang selama ini tidak kita dapatkan dalam rana pendidikan tinggi, telah mengobarkan api jiwa muda kami, untuk melakukan sebuah perubahan. Malam itu kita susun sebuah strategi. Strategi bagi para penguasa yang acuh dan tak acuh pada pendidikan kami. Strategi yang dibuat atas dasar rasa yang sama di fakultas kami.
Audensi adalah pilihan awal bagi kita semua. Setting di stasiun radio, yang akan membuka tabir semua kebobrokan pendidikan kita.
Kawan dari lamongan dan Ngawi berada di ruang AC studio bersama Dekan. Kalimat demi kalimat mulai mereka susun ketika On Air. Namun jelas terdengar suara mereka menjadi sumbang, mereka tidak berteriak seperti amarah mereka yang tertuang dalam malam bersama.
Aku mencoba menunggu sampai akhir, di luar studio. Aku diam membisu, saat kawanku yang berbicara dengan Dekan di radio terbius oleh diplomasi busuk.
Beruntung, usai mereka On Air. Dekan mau duduk bersama kita di stasiun radio tersebut. Kita berdiskusi bersama, pikiranku hanya mengatakan, “Anjiing dengan semua!”.
Aku tak mampu membiarkan mulutku terbungkam. Kukatakan saja apa yang pernah aku diskusikan dengan kawanku kepada Dekan. Tanpa basa-basi, maupun diplomasi, aku berucap, “Kita butuh kejelasan statuta, kita butuh fasilitas, dan kita butuh transparansi, pak!”.
Entah apa yang ada di kepala Dekan. Spontan saja dia naik pitam, dengan bahasa-bahasanya yang mulai menyudutkanku. Dia langsung keluar ruangan dengan mengatakan, ”catat nama mahasiswa ini ke dalam daftar hitam fakultas!!".
Alam pikiran kita menyatu. Mimpi harus menjadi realitas agar tidak menggantung. Jutaan ketakutan takkan mampu menggoyahkan mimpi kita.
“Kita harus menuntut fasilitas?”, Ujar sahabatku dari Lamongan.
“Kita butuh Dosen yang profesional?, Kata kawanku dari Bojonegoro.
“Masak laboratorium kita kalah dengan SMA?, Lanjut temanku dari Sidoarjo.
Sahabatku yang berasal dari Ngawi tak mau kalah juga, “Statuta kita ngambang, nanti mau jadi apa kalo kita lulus?”. Kemudian kawan dari madiun menyatakan bahwa, “kita harus menuntut Dekan untuk bertanggung jawab?.”
Ketidakadilan yang selama ini tidak kita dapatkan dalam rana pendidikan tinggi, telah mengobarkan api jiwa muda kami, untuk melakukan sebuah perubahan. Malam itu kita susun sebuah strategi. Strategi bagi para penguasa yang acuh dan tak acuh pada pendidikan kami. Strategi yang dibuat atas dasar rasa yang sama di fakultas kami.
Audensi adalah pilihan awal bagi kita semua. Setting di stasiun radio, yang akan membuka tabir semua kebobrokan pendidikan kita.
Kawan dari lamongan dan Ngawi berada di ruang AC studio bersama Dekan. Kalimat demi kalimat mulai mereka susun ketika On Air. Namun jelas terdengar suara mereka menjadi sumbang, mereka tidak berteriak seperti amarah mereka yang tertuang dalam malam bersama.
Aku mencoba menunggu sampai akhir, di luar studio. Aku diam membisu, saat kawanku yang berbicara dengan Dekan di radio terbius oleh diplomasi busuk.
Beruntung, usai mereka On Air. Dekan mau duduk bersama kita di stasiun radio tersebut. Kita berdiskusi bersama, pikiranku hanya mengatakan, “Anjiing dengan semua!”.
Aku tak mampu membiarkan mulutku terbungkam. Kukatakan saja apa yang pernah aku diskusikan dengan kawanku kepada Dekan. Tanpa basa-basi, maupun diplomasi, aku berucap, “Kita butuh kejelasan statuta, kita butuh fasilitas, dan kita butuh transparansi, pak!”.
Entah apa yang ada di kepala Dekan. Spontan saja dia naik pitam, dengan bahasa-bahasanya yang mulai menyudutkanku. Dia langsung keluar ruangan dengan mengatakan, ”catat nama mahasiswa ini ke dalam daftar hitam fakultas!!".
Labels:
Merah
Sahabat Pergerakan, Part Sidoarjo
Lapindo dan segala permasalahannya merupakan nuansa kelam negeri ini. Di saat air menjadi api bagi segala tanah yang menyelubunginya. Spontan telah berubah menjadi luapan amarah rakyat bagi penguasa tanah air nusantara.
Lambat, namun pasti. Tenggelam adalah jawaban bagi sebuah peradaban. Jauh di luar sana masih saja kita menapaki jejak ketidakpastian. Sahabat yang berangkat dari kota lumpur panas, mulai menyibakkan tabirnya di atas puing-puing senda gurau.
Langkah demi langkah, jelas terlihat sebuah harapan baru. Harapan akan kemerdekaan yang sesungguhnya, harapan keluar dari tirani, dan harapan untuk sang kekasih hati.
Dia yang berasal dari Sidoarjo, sahabat pergerakan. Menjalani setiap waktu, dengan kegelisahan dan pertarungan eksistensi.
Di saat aku masih menapaki langit kelam, saat itu juga dia berubah menjadi busung di seberang jalan. Melawan rongrongan harga minyak yang melambung, dia berteriak dengan perut kosong dan alas lusuh.
Di depan kampus tercinta kita selama ini. Sahabatku telah membuktikan bagaimana cara berjuang terhadap ketidakadilan. Melawan setiap jenuh dari penindasan yang terus menerus.
Sudah berapa hari ini, tidak ada arti kuliah lagi di otaknya. Dia telah tersenyum berada di gubuk kecil yang terbuat dari kain, dan di penuhi dengan semangat perubahan.
Begitu besar kasih sayangnya kepada bumi nusantara, telah ia buktikan dengan pengorbanannya. Tanpa rasa mengenal lapar, haus, sakit, terus saja dia melakukan aksi mogok makan.
Hanya rumah sakit yang menghentikannya kala itu. Rumah sakit menghentikan segala perjuangannya, dan runtuhnya bendera minyak seakan menjadi cahaya bagi sebuah perjuangan.
Lambat, namun pasti. Tenggelam adalah jawaban bagi sebuah peradaban. Jauh di luar sana masih saja kita menapaki jejak ketidakpastian. Sahabat yang berangkat dari kota lumpur panas, mulai menyibakkan tabirnya di atas puing-puing senda gurau.
Langkah demi langkah, jelas terlihat sebuah harapan baru. Harapan akan kemerdekaan yang sesungguhnya, harapan keluar dari tirani, dan harapan untuk sang kekasih hati.
Dia yang berasal dari Sidoarjo, sahabat pergerakan. Menjalani setiap waktu, dengan kegelisahan dan pertarungan eksistensi.
Di saat aku masih menapaki langit kelam, saat itu juga dia berubah menjadi busung di seberang jalan. Melawan rongrongan harga minyak yang melambung, dia berteriak dengan perut kosong dan alas lusuh.
Di depan kampus tercinta kita selama ini. Sahabatku telah membuktikan bagaimana cara berjuang terhadap ketidakadilan. Melawan setiap jenuh dari penindasan yang terus menerus.
Sudah berapa hari ini, tidak ada arti kuliah lagi di otaknya. Dia telah tersenyum berada di gubuk kecil yang terbuat dari kain, dan di penuhi dengan semangat perubahan.
Begitu besar kasih sayangnya kepada bumi nusantara, telah ia buktikan dengan pengorbanannya. Tanpa rasa mengenal lapar, haus, sakit, terus saja dia melakukan aksi mogok makan.
Hanya rumah sakit yang menghentikannya kala itu. Rumah sakit menghentikan segala perjuangannya, dan runtuhnya bendera minyak seakan menjadi cahaya bagi sebuah perjuangan.
Labels:
Merah
Senin, 20 April 2009
PENELITIAN DI ATAS ATAP GEDUNG KAMPUS
Kompetisi untuk sebuah penelitian selalu menantang kami dalam berkarya. Penelitian merupakan salah satu bentuk karya bagi kaum muda yang berada di lumbung Kampus.
Kampus kami berada di tengah kota Malang. Kampus yang bernama STAIN Malang. Kampus tempat kami berkarya, meskipun alat dan fasilitas sangatlah minim.
Kami tidak punya lahan untuk penelitian, kami tidak punya dosen yang mau di ajak untuk penelitian di luar bidang studi, dan kami hanya punya labolatorium kecil yang tidak lengkap.
Sebagai mahasiswa biologi, tentunya kami berharap mendapatkan lebih pengetahuan tentang seluk-beluk biologi di kampus. Namun tanpa mau mengerti, pengajar kami hanya menjalankan rutinitasnya dalam mengajar, tanpa mau mengerti apa yang ada di benak kami.
Lelah kami mengkritik, yang kami dapat hanya ancaman. Kesal kami di buat oleh birokrasi yang terus saja mengeluarkan taringnya, ketika kami meuntut fasilitas.
Sampai senior kami di biarkan bertarung dengan sesama mahasiswa dalam memperebutkan lahan di belakang kampus. Jalas saja kami kalah, musuh senior kami saat itu adalah Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam). Mahasiswa tidak punya keberanian dalam memperebutkan lahan tersebut, kami hanya bisa mengalah dan kalah.
Sebagai yunior saat itu, aku masih semester tiga. Aku hanya meradang ketika kami tidak mendapatkan apa-apa tentang biologi di kampus tercinta kami.
Masih teringat jelas di kepala, ketika saya tergabung dengan Tim penelitian yang ada di kelas. Kami melakukan penelitian tentang biji Kacang ijo. Penelitian yang kami lakukan bertujuan untuk di ikutkan lomba pada penelitian yang di adakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Biologi (LP2B) Malang.
Tiap malam, kita berkumpul di masjid dalam kampus. Kita membahas penelitian yang akan kita lakukan.
Muncul keanehan ide dari kawan-kawan atas keterbatasan fasilitas yang ada di kampus. Kita menaruh bahan penelitian tersebut, tepat berada di gedung belakang kampus.
Tiap malam teman kami memanjat atap gedung untuk melihat perkembangan dari hasil pertumbuhan biji kacang hijau. Dengan berbagai perlakuan didalamnya, dan terus memantau seolah satpam kampus terbius dan tidak memperhatikan apa yang kami lakukan.
Kalau di lihat-lihat, kita seperti pencuri, yang harus memanjat gedung tiap malam. Memanjat setiap kebodohan, demi sebuah harapan akan perubahan.
Penelitian layaknya penjahat tersebut membuahkan hasil. Kami berhasil mendapatkan Juara ke-2, dari sekian peserta yang ikut di dalamnya.
Kampus kami berada di tengah kota Malang. Kampus yang bernama STAIN Malang. Kampus tempat kami berkarya, meskipun alat dan fasilitas sangatlah minim.
Kami tidak punya lahan untuk penelitian, kami tidak punya dosen yang mau di ajak untuk penelitian di luar bidang studi, dan kami hanya punya labolatorium kecil yang tidak lengkap.
Sebagai mahasiswa biologi, tentunya kami berharap mendapatkan lebih pengetahuan tentang seluk-beluk biologi di kampus. Namun tanpa mau mengerti, pengajar kami hanya menjalankan rutinitasnya dalam mengajar, tanpa mau mengerti apa yang ada di benak kami.
Lelah kami mengkritik, yang kami dapat hanya ancaman. Kesal kami di buat oleh birokrasi yang terus saja mengeluarkan taringnya, ketika kami meuntut fasilitas.
Sampai senior kami di biarkan bertarung dengan sesama mahasiswa dalam memperebutkan lahan di belakang kampus. Jalas saja kami kalah, musuh senior kami saat itu adalah Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam). Mahasiswa tidak punya keberanian dalam memperebutkan lahan tersebut, kami hanya bisa mengalah dan kalah.
Sebagai yunior saat itu, aku masih semester tiga. Aku hanya meradang ketika kami tidak mendapatkan apa-apa tentang biologi di kampus tercinta kami.
Masih teringat jelas di kepala, ketika saya tergabung dengan Tim penelitian yang ada di kelas. Kami melakukan penelitian tentang biji Kacang ijo. Penelitian yang kami lakukan bertujuan untuk di ikutkan lomba pada penelitian yang di adakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Biologi (LP2B) Malang.
Tiap malam, kita berkumpul di masjid dalam kampus. Kita membahas penelitian yang akan kita lakukan.
Muncul keanehan ide dari kawan-kawan atas keterbatasan fasilitas yang ada di kampus. Kita menaruh bahan penelitian tersebut, tepat berada di gedung belakang kampus.
Tiap malam teman kami memanjat atap gedung untuk melihat perkembangan dari hasil pertumbuhan biji kacang hijau. Dengan berbagai perlakuan didalamnya, dan terus memantau seolah satpam kampus terbius dan tidak memperhatikan apa yang kami lakukan.
Kalau di lihat-lihat, kita seperti pencuri, yang harus memanjat gedung tiap malam. Memanjat setiap kebodohan, demi sebuah harapan akan perubahan.
Penelitian layaknya penjahat tersebut membuahkan hasil. Kami berhasil mendapatkan Juara ke-2, dari sekian peserta yang ikut di dalamnya.
Labels:
Merah
Minggu, 19 April 2009
"Aku Nggak Virgin Lagi" part 1
Berada di tiang-tiang intelektual, dengan seutas tali pembunuh bagi kesucian. Anak manusia yang terlahir begitu mulia tanpa dosa, namun hanya menangis tanpa sedih. Jalan yang di tempuhnya begitu berani dalam mengitari ketidakpastian.
Dentuman musik yang mempertemukan kita. Perempuan yang singgah dalam pejalanan terjal dan berliku.
Masih nampak matanya yang penuh tanya, bingung, sedih tanpa harap. Mencoba bertahan dari ketidakadilan dalam keluarganya.
Keluar, dan jauh dari kasih sayang. Lari namun hanya sebatas lika-liku sebuah harapan. Adik, dia hanya bisa menjadi adikku, tidak lebih. Hal itu, yang diinginkan ketika perahu sudah berada ditengah perjalanan.
Ombak selalu menghantamnya. Waktu demi waktu terus saja dia bermain dengan hempasan ombak, tanpa mau mengerti akan bahayanya, ketika ombak tersebut telah menggulung satu nyawa kemarin.
Namanya Larasati, nama yang indah, seindah parasnya yang cantik. Beda dengan perempuan lain, jiwanya yang setegar batu karang, hatinya yang sehalus sutra seakan mampu mengibaskan derai hati lawan jenisnya.
Ketika makan, Larasati seolah sangat menghargai apa yang ada di depannya. tidak ada secuil nasi pun yang keluar dari bibir manisnya. Semua makanan akan sangat berharga tatkala berada disisinya.
Malam menjadi kehidupan bagi Larasati. Berjalan mengelilingi kilau lampu-lampu pijar di batas kota. Mencari kedamaian dengan cerita-ceritanya yang luar biasa.
Satu bulan aku bersama dia disini. Satu bulan aku berkelana mencari titik sayu dari kedua bola matanya. Hingga panggilan alam menuntunku untuk pergi darinya, Bekerja dan mulai berpetualang di luar kota. Bagi Larasati, pergiku adalah bagian yang membuat lara. Namun aku selalu mencoba mengingatkan bahwa dia akan tenang di samping kawan-kawanku. Aku pergi karena aku harus bekerja, layaknya kehidupan yang menuntut setiap insan untuk ke arah kesana.
Dentuman musik yang mempertemukan kita. Perempuan yang singgah dalam pejalanan terjal dan berliku.
Masih nampak matanya yang penuh tanya, bingung, sedih tanpa harap. Mencoba bertahan dari ketidakadilan dalam keluarganya.
Keluar, dan jauh dari kasih sayang. Lari namun hanya sebatas lika-liku sebuah harapan. Adik, dia hanya bisa menjadi adikku, tidak lebih. Hal itu, yang diinginkan ketika perahu sudah berada ditengah perjalanan.
Ombak selalu menghantamnya. Waktu demi waktu terus saja dia bermain dengan hempasan ombak, tanpa mau mengerti akan bahayanya, ketika ombak tersebut telah menggulung satu nyawa kemarin.
Namanya Larasati, nama yang indah, seindah parasnya yang cantik. Beda dengan perempuan lain, jiwanya yang setegar batu karang, hatinya yang sehalus sutra seakan mampu mengibaskan derai hati lawan jenisnya.
Ketika makan, Larasati seolah sangat menghargai apa yang ada di depannya. tidak ada secuil nasi pun yang keluar dari bibir manisnya. Semua makanan akan sangat berharga tatkala berada disisinya.
Malam menjadi kehidupan bagi Larasati. Berjalan mengelilingi kilau lampu-lampu pijar di batas kota. Mencari kedamaian dengan cerita-ceritanya yang luar biasa.
Satu bulan aku bersama dia disini. Satu bulan aku berkelana mencari titik sayu dari kedua bola matanya. Hingga panggilan alam menuntunku untuk pergi darinya, Bekerja dan mulai berpetualang di luar kota. Bagi Larasati, pergiku adalah bagian yang membuat lara. Namun aku selalu mencoba mengingatkan bahwa dia akan tenang di samping kawan-kawanku. Aku pergi karena aku harus bekerja, layaknya kehidupan yang menuntut setiap insan untuk ke arah kesana.
Labels:
Merah
Sabtu, 18 April 2009
Sahabat Pergerakan, Part Blora 2
Lama tidak pernah bersua dalam detak pergerakan. Sahabat yang telah pergi dan jauh dari hiruk pikuk Pergerakan kota Malang. Aku dan ke-tiga sahabatku yang bertahan disini terus saja bergumam akan keberadaannya.
Kenapa cahaya yang terang benderang keluar begitu cepat? Kami masih butuh pemikirannya, kami masih memerlukan kreatifitas dan jiwa mudanya. Sahabat yang pergi begitu cepat meninggalkan kami seakan telah membius rusuk setiap kepribadian yang telah kita bangun bersama.
------------------------#---------------------------#---------------------
Suara-suara sumbang yang berdatangan pun muncul dengan dering yang membuat kami tersenyum. Menurut kabar, Anak Blora, Anak Jati tersebut telah menjadi seorang pemimpin di kota minyak. Pemimpin perisai kuning, pemimpin bagi perubahan di kota Bojonegoro.
Tidaklah mudah menggapai cita yang telah terbelenggu. Di tengah kesederhanan dari reruntuhan bola-bola api, dan terpaan angin kencang telah membuat Pohon Jati tersebut kokoh, sampai-sampai gergaji mesin kebiadaban tidak mampu menebangnya.
Semakin kuat, semakin hebat, semakin luar biasa, tatkala kabar yang berdatangan ke telinga kami tentang sahabatku Mustakim. Kami merasa kecil dan kerdil kala mendengar kabar tersebut, semangat dan jiwanya yang mampu menggelontorkan peradaban, telah memicu kami yang di Malang untuk terus berkarya dan mengabdi bagi merah putih.
Kenapa cahaya yang terang benderang keluar begitu cepat? Kami masih butuh pemikirannya, kami masih memerlukan kreatifitas dan jiwa mudanya. Sahabat yang pergi begitu cepat meninggalkan kami seakan telah membius rusuk setiap kepribadian yang telah kita bangun bersama.
------------------------#---------------------------#---------------------
Suara-suara sumbang yang berdatangan pun muncul dengan dering yang membuat kami tersenyum. Menurut kabar, Anak Blora, Anak Jati tersebut telah menjadi seorang pemimpin di kota minyak. Pemimpin perisai kuning, pemimpin bagi perubahan di kota Bojonegoro.
Tidaklah mudah menggapai cita yang telah terbelenggu. Di tengah kesederhanan dari reruntuhan bola-bola api, dan terpaan angin kencang telah membuat Pohon Jati tersebut kokoh, sampai-sampai gergaji mesin kebiadaban tidak mampu menebangnya.
Semakin kuat, semakin hebat, semakin luar biasa, tatkala kabar yang berdatangan ke telinga kami tentang sahabatku Mustakim. Kami merasa kecil dan kerdil kala mendengar kabar tersebut, semangat dan jiwanya yang mampu menggelontorkan peradaban, telah memicu kami yang di Malang untuk terus berkarya dan mengabdi bagi merah putih.
Labels:
Merah
Langganan:
Postingan (Atom)
