Rabu, 29 April 2009

Daftar Hitam

Photobucket
Di seberang jalan, redup oleh hitamnya malam. Lampu-lampu menemani kita, dengan nikotin dan kafein. Jalanan hanya di jajaki oleh para penjaja riski. Tanpa ada lagi padat lalu-lalang, bagi kepulan asap hitam.

Alam pikiran kita menyatu. Mimpi harus menjadi realitas agar tidak menggantung. Jutaan ketakutan takkan mampu menggoyahkan mimpi kita.

“Kita harus menuntut fasilitas?”, Ujar sahabatku dari Lamongan.
“Kita butuh Dosen yang profesional?, Kata kawanku dari Bojonegoro.
“Masak laboratorium kita kalah dengan SMA?, Lanjut temanku dari Sidoarjo.
Sahabatku yang berasal dari Ngawi tak mau kalah juga, “Statuta kita ngambang, nanti mau jadi apa kalo kita lulus?”. Kemudian kawan dari madiun menyatakan bahwa, “kita harus menuntut Dekan untuk bertanggung jawab?.”

Ketidakadilan yang selama ini tidak kita dapatkan dalam rana pendidikan tinggi, telah mengobarkan api jiwa muda kami, untuk melakukan sebuah perubahan. Malam itu kita susun sebuah strategi. Strategi bagi para penguasa yang acuh dan tak acuh pada pendidikan kami. Strategi yang dibuat atas dasar rasa yang sama di fakultas kami.

Audensi adalah pilihan awal bagi kita semua. Setting di stasiun radio, yang akan membuka tabir semua kebobrokan pendidikan kita.

Kawan dari lamongan dan Ngawi berada di ruang AC studio bersama Dekan. Kalimat demi kalimat mulai mereka susun ketika On Air. Namun jelas terdengar suara mereka menjadi sumbang, mereka tidak berteriak seperti amarah mereka yang tertuang dalam malam bersama.

Aku mencoba menunggu sampai akhir, di luar studio. Aku diam membisu, saat kawanku yang berbicara dengan Dekan di radio terbius oleh diplomasi busuk.

Beruntung, usai mereka On Air. Dekan mau duduk bersama kita di stasiun radio tersebut. Kita berdiskusi bersama, pikiranku hanya mengatakan, “Anjiing dengan semua!”.

Aku tak mampu membiarkan mulutku terbungkam. Kukatakan saja apa yang pernah aku diskusikan dengan kawanku kepada Dekan. Tanpa basa-basi, maupun diplomasi, aku berucap, “Kita butuh kejelasan statuta, kita butuh fasilitas, dan kita butuh transparansi, pak!”.

Entah apa yang ada di kepala Dekan. Spontan saja dia naik pitam, dengan bahasa-bahasanya yang mulai menyudutkanku. Dia langsung keluar ruangan dengan mengatakan, ”catat nama mahasiswa ini ke dalam daftar hitam fakultas!!".

Sahabat Pergerakan, Part Sidoarjo

Lapindo dan segala permasalahannya merupakan nuansa kelam negeri ini. Di saat air menjadi api bagi segala tanah yang menyelubunginya. Spontan telah berubah menjadi luapan amarah rakyat bagi penguasa tanah air nusantara.

Lambat, namun pasti. Tenggelam adalah jawaban bagi sebuah peradaban. Jauh di luar sana masih saja kita menapaki jejak ketidakpastian. Sahabat yang berangkat dari kota lumpur panas, mulai menyibakkan tabirnya di atas puing-puing senda gurau.

Langkah demi langkah, jelas terlihat sebuah harapan baru. Harapan akan kemerdekaan yang sesungguhnya, harapan keluar dari tirani, dan harapan untuk sang kekasih hati.

Dia yang berasal dari Sidoarjo, sahabat pergerakan. Menjalani setiap waktu, dengan kegelisahan dan pertarungan eksistensi.

Di saat aku masih menapaki langit kelam, saat itu juga dia berubah menjadi busung di seberang jalan. Melawan rongrongan harga minyak yang melambung, dia berteriak dengan perut kosong dan alas lusuh.

Di depan kampus tercinta kita selama ini. Sahabatku telah membuktikan bagaimana cara berjuang terhadap ketidakadilan. Melawan setiap jenuh dari penindasan yang terus menerus.

Sudah berapa hari ini, tidak ada arti kuliah lagi di otaknya. Dia telah tersenyum berada di gubuk kecil yang terbuat dari kain, dan di penuhi dengan semangat perubahan.

Begitu besar kasih sayangnya kepada bumi nusantara, telah ia buktikan dengan pengorbanannya. Tanpa rasa mengenal lapar, haus, sakit, terus saja dia melakukan aksi mogok makan.

Hanya rumah sakit yang menghentikannya kala itu. Rumah sakit menghentikan segala perjuangannya, dan runtuhnya bendera minyak seakan menjadi cahaya bagi sebuah perjuangan.

Senin, 20 April 2009

Two Dhe Sang Juara

Aku berlari dari hadangan lawan, mengecohnya. Bola itu masih melekat dari kakiku, kemudian aku belari meninggalkan ujung lawan, sendiri aku bawa bola itu, hingga aku hanya berhadapan dengan kiper. Kaki sedikit aku tarik ke belakang, pandanganku mengarah ke ujung sebelah kiri tiang dalam gawang. Aku menendangnya dan golll!.

Pertandingan dengan kelas dua F, aku mampu menyarangkan tujuh gol ke gawang lawan, dari sembilan gol kemenangan timku. Timku seluruhnya berasal dari kelas yang sama, yaitu kelas dua D, salah satu kelas yang ada di sekolah SMANGGI (SMAN 1 Gondanglegi).

Tiada hari tanpa pertandingan bola. Kelas dua dan kelas tiga kami lahap dengan kemenangan, tanpa satu kali pun kekalahan. Kekuatan Tim yang berasal dari kecepatan sayap kiri, kecepatan dengan dribel bola diatas rata-rata. Kemudian beck yang sangat lugas dan tangguh, serta striker dari desa Tajinan yang selalu haus akan gol.

Akan tetapi, yang membuat kami selalu berada di ambang semangat kemenangan adalah seluruh kelas 2 D. Dukungan yang tiada henti, dukungan yan disertai dengan pengorbanan, baik itu dari laki-laki maupun perempuan.

Sore itu, kami merayakan kemenangan dengan senda gurau di sebuah warung yang tak jauh dari lapangan. Warung tempat kami berkeluh kesah saat usai bermain bola.

”Hei, kelas 1 C mau menantang kita?”. Ujar kawanku dengan semangat juang yang masih menggebu.

”Kelas 2 dan 3 aja kita hajar tanpa ampun, ini lagi kelas satu mau ikut-ikutan!”. Sahut sahabatku yang duduk, sambil masih menghisap nikotin.

”Oke!, kapan?”. Tanyaku. ”Besok!”. Jawab kawanku.

-------------------------#-------------------------#-------------------------------------------------------

Pagi, hari yang cerah. Hari yang membuat adrenalinku meningkat saat belajar di sekolahan. Waktu berjalan sangat lama, saat aku menantikan siang yang akan menjadi pertandingan yang luar biasa.

Cerah pada pagi hari, berubah menjadi mendung dan gelap pada waktu siang. Seolah menandakan pertandingan akan di tunda. Tapi semangat dua Tim tidak meruntuhkan semangat juang untuk sebuah kemenangan.

”Pritt...”. Peluit telah di tiup, pertandingan di mulai.

“Golll....”.Kami kemasukan, semua terdiam oleh gol cepat lawan.
Usai gol tersebut, rintik hujan mulai membasahi lapangan. Tidak lama kemudian, Hujan deras mulai menggenangi sebagian dari lapangan. Namun, pertandingan terus berjalan, tanpa peduli hujan dan kilau petir.

Kiper kami yang sangat lengket dengan bola, tiba-tiba terdiam saat bola meluncur di sampingnya. ”Golll”. Ucap lawan kami sambil tertawa.

Dua kosong kami ketinggalan. Aku mencoba maju menjadi striker, kutinggalkan lapangan tengah dan belakang. Berat ketika membawa bola, tendanganku hanya mampu mengenai mistar gawang, keluar gawang, dan selalu gagal. Hanya satu gol, yang bisa di ciptakan oleh tim kami ketika pertandingan itu. Kami kalah.

Kutancap sepeda motorku, kutarik gas, hujan masih saja tidak berhenti.

Kekalahan yang buat aku menangis dalam kesedihan, aku hanya menyesali beberapa peluangku tadi ketika di depan gawang lawan, ”kenapa aku gagal membuahkan sebuah gol”.

Esoknya aku dan kawan-kawan tidak masuk sekolah, kita pergi ke rumah teman. Kita istirahat, kita masih sedih karena kekalahan kemarin. Namun, di rumah teman tersebut, kita banyak memahami akan kekalahan, persahabatan, komitmen dan persaudaraan.

Untuk pertandingan ulang kedua melawan kelas 1 C, kita menang dengan skor 2-1

SAYATAN PULAU PENJALIRAN

Ruangan terasa asing di sebuah rumah tua. Rumah dengan ventilasi yang hanya selebar bunga karang. Sudut ruangan nampak kelam di makan usia. Dinding-dindingnya yang telah berlumut, dengan jajaran puing-puing sampah yang berserakan di lantai.

Aku meronta kesakitan. Rantai yang menyelubungi tanganku, seakan bertambah kuat, kala kucoba lepaskan ikatannya.

Dimana aku kini. Teriakanku hanya menjadi rongrongan bisu. Tanpa ada yang mendengar. Tanpa ada yang tahu.

Tiba-tiba datang seseorang. Dia berparas lusuh, bertopi, tubuhnya yang tegap seolah menyembunyikan kerutan dari usianya yang sudah tua. Dia berjalan mendekatiku, dan terus mendekatiku, sampai hanya kakinya yang tak beralas ada di pandanganku.

”Auch, tolong, ampun, auch, ampuunn!”. ucapku saat dia menyiksaku. Tanpa sebab yang jelas aku menjadi bulan-bulanan dari kepalan tangannya. Aku di seret, di tendang, di pukul sampai tubuhku tak berdaya.

”Apa salahku? apa dosaku? Kenapa kau siksa aku?.” Gerutuku dalam hati, karena mulutku sudah tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Aku di seretnya keluar ruangan. Di tarik ke atas langit-langit rumah. Nampak jelas oleh kedua mataku, dia mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya.

Wajahnya yang seram seakan hendak menikamku. Dia membalikkan tubuh krempengku yang telanjang dada. Aku tak mampu lagi menatap wajahnya.

”Auuuch!”. Kala dia menyayat kulitku dari atas ke bawah dari punggungku.

”Auuuuch, Ampunnn, Auuuuuuuch!”. Kedua kalinya dia menyayatku.

”Auuch!”. Sayatan yang ketiga kalinya, aku terbangun dari tidur siangku. Kemudian aku terdiam, lalu aku beranjak keluar dari rumah itu. Rumah tersebut adalah rumah tua tempat aku bekerja, rumah yang terletak di pulau Penjaliran.

Kemudian aku duduk di atas bongkahan kayu di depan rumah. Tubuhku masih bercucuran keringat. Rasa sakit di punggung jelas masih ada, namun luka sayatan itu tidak ada. Hanya rasa sakit saja yang masih terasa.

PENELITIAN DI ATAS ATAP GEDUNG KAMPUS

Kompetisi untuk sebuah penelitian selalu menantang kami dalam berkarya. Penelitian merupakan salah satu bentuk karya bagi kaum muda yang berada di lumbung Kampus.

Kampus kami berada di tengah kota Malang. Kampus yang bernama STAIN Malang. Kampus tempat kami berkarya, meskipun alat dan fasilitas sangatlah minim.

Kami tidak punya lahan untuk penelitian, kami tidak punya dosen yang mau di ajak untuk penelitian di luar bidang studi, dan kami hanya punya labolatorium kecil yang tidak lengkap.

Sebagai mahasiswa biologi, tentunya kami berharap mendapatkan lebih pengetahuan tentang seluk-beluk biologi di kampus. Namun tanpa mau mengerti, pengajar kami hanya menjalankan rutinitasnya dalam mengajar, tanpa mau mengerti apa yang ada di benak kami.

Lelah kami mengkritik, yang kami dapat hanya ancaman. Kesal kami di buat oleh birokrasi yang terus saja mengeluarkan taringnya, ketika kami meuntut fasilitas.

Sampai senior kami di biarkan bertarung dengan sesama mahasiswa dalam memperebutkan lahan di belakang kampus. Jalas saja kami kalah, musuh senior kami saat itu adalah Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam). Mahasiswa tidak punya keberanian dalam memperebutkan lahan tersebut, kami hanya bisa mengalah dan kalah.

Sebagai yunior saat itu, aku masih semester tiga. Aku hanya meradang ketika kami tidak mendapatkan apa-apa tentang biologi di kampus tercinta kami.

Masih teringat jelas di kepala, ketika saya tergabung dengan Tim penelitian yang ada di kelas. Kami melakukan penelitian tentang biji Kacang ijo. Penelitian yang kami lakukan bertujuan untuk di ikutkan lomba pada penelitian yang di adakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Biologi (LP2B) Malang.

Tiap malam, kita berkumpul di masjid dalam kampus. Kita membahas penelitian yang akan kita lakukan.

Muncul keanehan ide dari kawan-kawan atas keterbatasan fasilitas yang ada di kampus. Kita menaruh bahan penelitian tersebut, tepat berada di gedung belakang kampus.

Tiap malam teman kami memanjat atap gedung untuk melihat perkembangan dari hasil pertumbuhan biji kacang hijau. Dengan berbagai perlakuan didalamnya, dan terus memantau seolah satpam kampus terbius dan tidak memperhatikan apa yang kami lakukan.

Kalau di lihat-lihat, kita seperti pencuri, yang harus memanjat gedung tiap malam. Memanjat setiap kebodohan, demi sebuah harapan akan perubahan.
Penelitian layaknya penjahat tersebut membuahkan hasil. Kami berhasil mendapatkan Juara ke-2, dari sekian peserta yang ikut di dalamnya.

Minggu, 19 April 2009

"Aku Nggak Virgin Lagi" part 1

Berada di tiang-tiang intelektual, dengan seutas tali pembunuh bagi kesucian. Anak manusia yang terlahir begitu mulia tanpa dosa, namun hanya menangis tanpa sedih. Jalan yang di tempuhnya begitu berani dalam mengitari ketidakpastian.

Dentuman musik yang mempertemukan kita. Perempuan yang singgah dalam pejalanan terjal dan berliku.

Masih nampak matanya yang penuh tanya, bingung, sedih tanpa harap. Mencoba bertahan dari ketidakadilan dalam keluarganya.

Keluar, dan jauh dari kasih sayang. Lari namun hanya sebatas lika-liku sebuah harapan. Adik, dia hanya bisa menjadi adikku, tidak lebih. Hal itu, yang diinginkan ketika perahu sudah berada ditengah perjalanan.

Ombak selalu menghantamnya. Waktu demi waktu terus saja dia bermain dengan hempasan ombak, tanpa mau mengerti akan bahayanya, ketika ombak tersebut telah menggulung satu nyawa kemarin.

Namanya Larasati, nama yang indah, seindah parasnya yang cantik. Beda dengan perempuan lain, jiwanya yang setegar batu karang, hatinya yang sehalus sutra seakan mampu mengibaskan derai hati lawan jenisnya.

Ketika makan, Larasati seolah sangat menghargai apa yang ada di depannya. tidak ada secuil nasi pun yang keluar dari bibir manisnya. Semua makanan akan sangat berharga tatkala berada disisinya.

Malam menjadi kehidupan bagi Larasati. Berjalan mengelilingi kilau lampu-lampu pijar di batas kota. Mencari kedamaian dengan cerita-ceritanya yang luar biasa.

Satu bulan aku bersama dia disini. Satu bulan aku berkelana mencari titik sayu dari kedua bola matanya. Hingga panggilan alam menuntunku untuk pergi darinya, Bekerja dan mulai berpetualang di luar kota. Bagi Larasati, pergiku adalah bagian yang membuat lara. Namun aku selalu mencoba mengingatkan bahwa dia akan tenang di samping kawan-kawanku. Aku pergi karena aku harus bekerja, layaknya kehidupan yang menuntut setiap insan untuk ke arah kesana.

Sabtu, 18 April 2009

Sahabat Pergerakan, Part Blora 2

Lama tidak pernah bersua dalam detak pergerakan. Sahabat yang telah pergi dan jauh dari hiruk pikuk Pergerakan kota Malang. Aku dan ke-tiga sahabatku yang bertahan disini terus saja bergumam akan keberadaannya.

Kenapa cahaya yang terang benderang keluar begitu cepat? Kami masih butuh pemikirannya, kami masih memerlukan kreatifitas dan jiwa mudanya. Sahabat yang pergi begitu cepat meninggalkan kami seakan telah membius rusuk setiap kepribadian yang telah kita bangun bersama.

------------------------#---------------------------#---------------------

Suara-suara sumbang yang berdatangan pun muncul dengan dering yang membuat kami tersenyum. Menurut kabar, Anak Blora, Anak Jati tersebut telah menjadi seorang pemimpin di kota minyak. Pemimpin perisai kuning, pemimpin bagi perubahan di kota Bojonegoro.

Tidaklah mudah menggapai cita yang telah terbelenggu. Di tengah kesederhanan dari reruntuhan bola-bola api, dan terpaan angin kencang telah membuat Pohon Jati tersebut kokoh, sampai-sampai gergaji mesin kebiadaban tidak mampu menebangnya.

Semakin kuat, semakin hebat, semakin luar biasa, tatkala kabar yang berdatangan ke telinga kami tentang sahabatku Mustakim. Kami merasa kecil dan kerdil kala mendengar kabar tersebut, semangat dan jiwanya yang mampu menggelontorkan peradaban, telah memicu kami yang di Malang untuk terus berkarya dan mengabdi bagi merah putih.

Kamis, 16 April 2009

Sahabat Pergerakan, part Blora

Semua berangkat dari pergerakan. Tanpa batas menembus kerajaan langit. Empat sahabat dari Galileo, yang telah menginspirasi perjalanan Air Sunyi. Berjalan bersama di ruang Biologi, sebuah Perguruan Tinggi di Malang. Dua berasal dari kota minyak, Bojonegoro, mereka berdua berparas pesantren, Mubin dan Muslih. Hutan jati gundul, sang penguasa Blora, Penuh retorika dalam bingkai arus perubahan, bernama Mustakim. Penghuni Lumpur Lapindo, Ciri khas apologi dengan nuansa akademis, dia Bernama Irul.

Tahun 2001, ditahun ini ikatan mulai di bentuk. Ikatan yang selaras akan dinamika kaum muda. Haus akan perubahan, gila akan ilmu, dan rentan dengan keretakan. Aku tidak pernah berpikir, selama kuliah akan dipertemukan dengan 4 sahabat ini.

Berlari dan berlari mengejar semua bidang organisasi. Mulai dari intra, ekstra sampai organisasi tanda tanya. Di mulai dari warna Kuning, di gembleng oelh bapak pergerakan, yang bernama Galileo.

Benar-benar rakus akan ilmu, ketika kita bersama. Berjalan dan membunuh kebiadaban ketidakadilan. Sampai tiba sang Blora pergi dan meninggalkan kami.

Tak semudah berjalan bersama, pergi tanpa mengisyaratkan. Seolah semua telah tertasbih dalam perisai berwarna kuning. Tapi kami mesti terus berjalan, meski penguasa hutan jati telah pergi.

Jumat, 10 April 2009

Jalur Sungai di Pedalaman

Jauh dari daratan nampak elok. Hijau tanpa gedung-gedung bertingkat. Di ketinggian pulau Kalimantan kutatap dari kaca burung besi ini.

Tak pernah ku mengerti, 2 tahun yang lalu aku ketempat ini lewat jalur laut. Namun layaknya burung terbang di angkasa, satu jam saja kakiku sudah berada di sini.

Kulalui sendiri dengan tujuan yang nampak jelas nan bercahaya. Kulipat setiap guratan mata di setiap ujung jalan.

Beda dengan di Jawa, tranportasi dengan perahu merupakan ciri khas daerah bersungai. Jalur demi jalur dipenuhi dengan jembatan. Sang pemangsa pun selalu tersenyum mengitari perjalanan ini. Predator utama, sang elang.

Ikan sungai menjadi fokus bagi sang elang. Memangsa demi keseimbangan ekosistem. Lain halnya dengan manusia, yang terus-menerus memangsa hanya demi perut yang buncit.

Kokoh nan anggun burung ini, tak kenal lelah menemani setiap petualanganku di Kalimantan.

Namun saat ku lihat manusia diseberang hutan, di liang pedesaan yang jauh dari kota. Nampak jelas raut muka nan muram. Tak sanggup aku menatapnya, seolah di kebiri oleh bangsanya sendiri.

Menata bibit sawit, jauh dari keluarga, bekerja dan bekerja. Tidak ada kampus, tidak ada Mal, Tidak ada landasan pesawat terbang, dan gedung-gedung menjulang tinggi. hanya di temani keringat dan harapan akan masa depan.

Mereka berjuang dalam hidup, demi sesuap nasi, seuntai cita sang anak mereka. Jauh di pedalaman, aku menanyakan tentang keadilan. Keadilan yang selama ini selalu aku dengarkan, bahkan aku hafalkan mulai dari kecil. "KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDOSESIA."
(10 April 2009)

Kamis, 02 April 2009

Malaikat Jalanan

Kesadaran akan eksistensi yang semakin rapuh. Dalam perjalanan sunyi tak henti-hentinya aku berpikir akan kekuasaan Sang Pencipta. Mungkin ini entitas atau bagian hampa semata.

Di kota semarang, Jawa tengah. Dalam perjalanan pencarian fakta. saya berada di ruang penuh gedung-gedung. Tidak tahu harus kemana lagi. Saat pagi menjelang, kebimbangan dalam kesendirian.

Aku rapikan setiap rongsokan tubuh ini. Mulai ku buka pintu, dan keluar. Hari ini aku harus bergegas mencari berita, kepada lembaga pemerintahan di sana.

Masih pagi, jarum jam menunjukkan pukul 6 waktu Indonesia bagian barat. Aku naik Bis kecil yang menuju ke kota bagian barat, masih di kota Semarang. Aku masih baru disini, aku di putar-putar bak anak kecil bermain gasing. sampai tiba sang Ibu datang.

Ibu penjual kopi, di tengah kota. Kulihat dia sendiri, nampak membersihkan sisa-sisa kotoran di atas piring dan gelas. Pelan aku menuju dia, dan membeli secangkir kopi. Dengan lembut sang Ibu tersebut membuatkan kopi.

Sembari beliau melihatku aneh, karena saat itu aku seperti orang tak tahu arah. "Mau kemana Dik?"(Sahut sang IBu.

Aku menjawab," Saya mau ke Dinas Kehutanan, di Jalan Dr Soetomo?". "Langsung saja naik bis kuning, nanti lewat sini, tunggu saja bentar?"(jawab sang Ibu, sembari menunjukkan arah tujuanku)

Jauh di dalam hati, aku tersenyum. Tiba-tiba gelas yang berisi kopi, tepat di samping aku jatuh. Seketika aku minta maaf, kemudian aku keluarkan uang 5ribu untuk mengganti gelas yang pecah.

Namun Ibu tersebut menolak uang lima ribu yang aku berikan. beliau berkata:" harga gelas ini cuma 1500 mas, Jadi 1500 saja".

Selama aku di perjalanan belum ada seorang yang seperti itu. Seorang Ibu yang hanya berjualan kopi, namun sangat jujur dan menghormati orang yang jauh dan belum dia kenal.

Andai beliau membaca tulisan ini, aku ingin berucap terima kasih. Ibu adalah orang mulia di Sisi tuhan.

Nulis pesan di sini.....


ShoutMix chat widget