Kamis, 01 Oktober 2009

Kebencian hanya akan membuat jauh

Perlahan semua begitu cepat adanya. Setiap ada akan membawa ketiadaan dan begitu sebaliknya. Semua terasa indah...

Ego menjadi raja. Menguasai jelajah malam. Membutakan setiap kalimat demi kalimat.

Kutuju hanya ranamu. Dalam peluk susah dan senang. Ku nanti masa itu, Masa kita berbagia.

Namun sampai kini aku masih melihat sebuah ego. Aku menatap kebencianmu. Pintaku hanya satu, kejujuran.

Sabtu, 12 September 2009

Rebahan Kekasih

Di pelukku ku rasakan damaiku
Di sampingku kau luluhkan kisahku
Senyum yang teringat dalam setiap manismu
Rasa yang terangkum dalam cinta kita

Berucap diam namun penuh makna
Paras yang tak ku lupa
Setiap waktu bisu tanpamu
Kau redakan ego petualanganku

Aku biarkan semua masa berlalu
Bersama tujuan kehidupan kita
Masa baru yang penuh rahasia
Meski waktu yang akan menuntun kita dalam jalan-Nya.

Senin, 31 Agustus 2009

Sebuah kisah klasik

Selalu saja datang dengan ancaman. Setiap kata harusnya sabda pandeta ratu. Setiap kalimat harusnya berujung kebijaksanaan.

Keras tanpa pernah berpikir sebuah rasa. Batu menghujam di terik matahari. Air tak sanggup membendung. Namun Air akan teriak dengan beriaknya.

Teringat arti penting sebuah kebebasan. Tanpa diganggu, tanpa dikejar paparazi. Dia sedang negatif thinking. Dan kusadar itu hanya alasan sebuah tanggungjawab. Tanggung jawab penghormatan tertinggi dalam keluarganya.

Namun, keluarga bagi air adalah setiap tetesan penyejuk rasa. Sebuah harapan yang ditunggu...Harapan yang dibangun dengan cinta kasih dan kejujuran.

Selasa, 25 Agustus 2009

Kamu Hidupku

Tidakkah kamu mengerti betapa sakitnya saat engkau jauh. Tapi aku gak bisa maksa dengan keadaan kita.

Ingin aku menata ruangku dengan dimensi cinta yang berbeda pada-Nya.
Ku sambut hari demi hari dengan keindahanmu. Merajut hari tanpa batas.

Saat bersamamu aku merasakan kebahagian. Betapa bahagia aku di dekatmu. Baru pertama kali aku merasakan cinta yang begitu dalam.

Sering aku keluar dari cinta itu. Menjauh dan pergi. Namun aku tak mampu.

Keadaan tanpa ada jawab. Keadaan dengan rasa takutmu. Hanya akan membuatku terus kesakitan.

Tapi aku tidak ingin mendapatkanmu. Aku sudah berjanji akan mengikhlaskanmu. Namun rasa ini kian menyiksaku.

Dahulu aku sangat membenci rasa cinta terhadap kaummu. Bagiku itu bukanlah hidup. Sampai tiba aku mengerti bahwa cinta tidak bisa dikendalikan.

Di dekatmu adalah kebahagiaan.
Di sampingmu adalah kehidupan.
Di sisimu aku merasakan keindahan.

Aku akan menunggu sampai tiba waktunya. Bersamamu atau mati karena keadaaan hari ini.

Minggu, 23 Agustus 2009

Takkan Bisa Tanpamu

Setiap kali Air menjauhi Api. Saat-saat tersebut serasa alam terkikis tak menentu. Serasa hilang, tanpa sadar, dalam bayang jauh.

Kusadar setiap keberadaanmu sangat berarti. Meski aku tak sanggup lagi menjadi tinta dalam buku putihmu. Jauh kuberharap banyak, dengan kisah manis pahitmu dalam menghiasi dinding rasaku. Namun kusadar hatimu dan kasihmu bukan untukku, tapi mata indahmu tak bisa membohongiku jika engkau juga menyayangiku.

Ingin aku berkomitmen. Aku sengaja menjatuhkan diriku pada detak jantungmu. Kini hari-hariku hanya ada satu perempuan, yaitu perempuan yang selalu menolak setiap kali aku ucap sayangku kepadanya.

Minggu, 16 Agustus 2009

Menghilang dan Menjauh, Kemudian?

Tiada yang lebih indah dari hari ini. Aku pikir dengan jauh aku bisa tenang. Aku pikir dengan menghilang aku bisa damai. Kekuatan cinta memang takkan pernah sirnah.

Sering aku mencoba berada pada ambang batas cintanya. Aku tahu itu sulit. Aku tahu itu tidak mungkin. Terkadang aku lemah dan terhempas sampai semua terasa sesak.

Sumber jiwa dan langitku. Jangan pernah tinggalkan alam fanaku. Biarkan aku didekatmu. Biarkan aku menyayangimu...

Rabu, 12 Agustus 2009

Saat Aku Memutuskan Nasibku Sendiri

Sudah lama aku menantikan masa ini. Masa yang tak pernah aku mengerti. Masa yang teramat sulit untuk di definisikan.

Semua yang ada hanyalah ketiadaan. Persembunyian bukanlah diriku. Bebas terbang tanpa ada pengikat ketajaman bagi sang penakluk. Hati telah menyatu dalam raga tak berdaging. Merangkak dan mencoba mengartikan keberadaan tanpa nafsu. Tapi, aku bukanlah malaikat, dan aku tidak ingin seperti malaikat.

Dua hal bergelayut, kala malam tiba. Sejuta makna aku dapatkan dari hari-hari kebisuan. Disini dan disana adalah sama. Mentalitas yang tak kunjung mematikan setiap pengganggu dalam kecerobohan dalam mengenal-Nya. Kau disana dan aku disini sama saja.

Terbias sudah kini. Kupustuskan aku adalah aku. Dan aku adalah aku. Aku adalah aku, dan bukan kamu atau kalian. Namun, aku persembahkan hidupku untuk semua yang pernah singgah dalam petualangan dinamisasi hidupku

Lintasan Ikhlas

Sendiri dalam kelamnya hari di pulau sejuta kisah. Rimbun bingkai katulistiwa. Terjerabut akar pemikiran hati. Selaras panjangnya desir pantai. Terawangku jauh di keluarga. Nampak deru awan hitam saat tangan aku lepas. Saatnya ku tapaki setiap peribadatanku di perjalanan nafas hidup.

Disisi kanan harapan. Duduk di sebelah ranting dahan tanaman bakau. Ombak menggeliat kecil menyisir setiap detik. Jauh di atas sana, langit tersemai dalam gelombang jatuh tak berdaya.

Tubuh ku bersayap. Mengitari masa-masa lalu. Menjauh di persimpangan ideologi. Menjauh dalam segala atas nama agama dan negara. Menjauh dari lubang penuh duka.
Melayang-layang di atas biosfer. Semua nampak kecil, tak berarti. Semua hanyalah untaian pergulatan drama romantika.

Bumi berumur. Tua rentah dalam emosional amarah. Beribu bencana telah di kobarkan. Sejuta harapan tak mampu di cerna binatang berakal. Aku terdiam disini dan hanya menjauh. Selangkah lagi adalah kosong. Selangkah lagi adalah keniscayaan.

Lintasan ini teramat menyesatkan. Namun, aku berbahagia. Lintasan ini adalah jalan bagi sang petualang. Berjalan menapaki setiap perihnya arah lintasan keikhlasan.

Senin, 10 Agustus 2009

Trotoar Dalam Tangis

Sejenak aku diam. Menatap tajam matanya. Dipersimpangan jalan rambu. Tergulai lemas dalam pelukan debu jalanan. Merontah minta ampun pada keadaan.

Rumah jalanan. Menjadi rumah peribadatan. Dikala malam adalah keheningan. Siang adalah hidup dan mati. Keringat mengucur deras dengan sentuhan nada indah. Tanpa berhenti dan meminta belas kasihan. Tangis anak belasan tahun.

Dimana pertanggungjawaban penikmatnya. Berada dalam seprei tak beralas. Teriak tak digubris. Lirih bagi sang dewa berparas buas. Terkulai menghasilkan benih jalanan. Namun, semua tetap bertahan dalam garis hitam.

Mereka bukan kalah, anak-anak trotoar. Namun kemenangan bukanlah sebuah jawaban. Nasib dan keadaan hanyalah pelangi kehidupan. Surga selalu dalam lintas Trotoar. Bukan berada dalam hati yang tak bisa berbagi.

Lintasan Terakhir Sang Petualang

Menjauh dari hiruk-pikuk kepakan sayap-sayap
Melangkah sendiri di tengah gurun
Merobohkan tirani
Mengenakan jubah Air Sunyi

Gelombang badai tak surut menghantam
Gendang telinga mulai robek
Gersang dalam dinamis
Galau kala malam

Jangan kau peksakan
Merubah bukan perubahan
Kembali bukan jalan
dan Hari ini adalah kepastian

Minggu, 19 Juli 2009

Telaga Putih

Setiap gending berkumandang
Kulalui masaku tanpa adanya

Merintih sepanjang hayat
Tatkala jawab tak berarti
Dalam penantian yang sama

Beragam cara telah aku buat
Detik setiap detik
Waktu berpikir adanya

Jalan menjadi hitam
Kelam oleh derasnya arus
Aku masih menunggu disini
selalu ada dalam lirihnya

Setiap harapan terlahir sunyi
Hanya ingin bersamamu di telaga putih

Kamis, 16 Juli 2009

Aku Biarkan Saja

Aku biarkan dia menyiksaku dengan jawabannya. Aku biarkan dia mendekatiku dengan tugas-tugasnya. Aku biarkan setiap waktu berpikir tentangnya. Aku biarkan dia menjadi milik orang lain.

Aku begitu mencintainya, namun aku biarkan. Aku sudah berucap di telinganya, namun dia biarkan. Kemudian ketidakpastian akan menjadi jalan-jalan pesakitan.

Aku sudah tak punya tujuan kecuali adanya dia. Semua yang berlalu kini hanya jalan bagi kehidupanku selanjutnya. Aku tertawa tapi keluar air mata, Aku menangis tapi berlimpah kebahagiaan.

Sampai kapanpun aku biarkan apa yang menjadi pilihannya. Pilihanku hanya waktu demi waktu dalam kubangan jalan-Nya. Aku menuju ruang tanpa batas. Aku menjalankan semua tanpa rasa lagi... keluar dari entitas manusia dan masuk dalam lintas jalan-Nya.

Rana Cahaya

Dering tak berasa lagi di gendang telinga. Suara takkan mampu menjadi kalimat pemusnah.. Aku diam dan tak ada lagi detak kehidupan!

Semakin lama masa akan menjadi masalah. Kedamaian dan peperangan menuju jalan jagad raya.. Aku diam dan melihatnya dengan sudut keindahan!

Tiap manusia mencela satu sama lain. Saling menikam dari arah mana saja. Dentumannya merobohkan setiap hujan di bulan ini.. Aku diam dan menatapnya dengan petir di dadaku!

Setiap manusia punya arah dan tujuan. Setiap yang ada akan menjadi tiada. Setiap senyuman sangatlah berarti.. aku diam dan menjaga hati dalam dimensi rana cahaya!

Senin, 13 Juli 2009

Cinta Sejati

Ingin kuhabiskan waktuku bersamamu. Menjadi kekasih hati disaat tuaku nanti. Membangun kebahagian sejati.

Jauh dari kebisingan. Keluar dari rutinitas tak bertuan. Menjadi hedonis...

Apa aku bisa.
Apa aku Mampu.

Kadang semua yang pernah ada sangatlah menjenuhkan...
Semua yang terlihat tak seindah dulu...
Aku melihat semua dengan tangis!!
Saat kuasa-Nya tak bisa ku bendung.

Tuhan Izinkan aku di jalan-Mu.

Senin, 06 Juli 2009

Senandung Malam

Jiwa sang pelantun nada indah
Beranjak di keheningan kata-kata
Meluangkan kasih putih
Dalam malam
Malam dan malam

Kudengar detak jantungmu
Kusemai sebuah arti keindahan
Kubawa engkau ke alam Nirwana

Jiwaku rentan tanpamu
Pergi dan kembali
Dejavu bagi pelindung malam
Bergejolak tatkala Senyum menggaris
Aku ingin berada pada ada

Kau letih
Kau terkikis
Kau terluka
Karena datangku
dan semua kata-kata ku
Tak ada niat membuatmu terbang ke alamku...

Sabtu, 04 Juli 2009

oh indahnya...

Tiada yang lebih indah dari hari ini... semua telah berubah.

Binar matanya, rona merahnya... oh indahnya.

Ku ucap rasa syukur... sujud aku di hadapNya.

Pagi ini. seperti pagi tiada henti... semua begitu sempurna.

Tanpa ada lagi harap dan tanya... semua penuh warna, pagi ini.

Semoga anda juga seperti itu...

Menyelami indahnya embun pagi......tanpa bising manusia!

Kekasih Hati...

Kutikam setiap masa. Berlalu tanpanya lagi. Setiap pagi adalah pagi. Malam hanya menjadi malam. Rutinitas adalah kepastian. Akifitas bagian dari kematian.

Pasukan bertopeng mulai bermunculan dimana-mana. Tersenyum, tertawa, terbahak-bahak setiap waktu.

Gerombolan pembohong bermunculan dimana-mana, Sembari menikam sahabat-sahabatnya.

"Memalsukan, dipalsukan adalah kebiasaan." Bangga lagi, ketika melakukannya.

Keadaan menjadi alasan!!! Musuhnya senantiasa menjadi sahabat dekat otak kanannya.

Kebenaran atas orang lain telah mendarah daging.

Begitulah alam semesta dalam mencintai kekasih hatinya...

Air Sunyi

Menghilang lebam jenaka
Menari di terik lentik tangan kirinya
menapak sang "sunyi"
Air?
Hanyut sudah
Gelombang melibas dengan cinta

Tali yang mengikatnya terlepas
"Bebas liar"
Tertera dalam selembar naskah jawab
Tersemai dalam kelam
Hilang dan terhilang, jauh menjauhi

Beranjak dengan kaki-kaki
Tak tentu yang berangan
Terasa letih lelah dalam angan
menaburkan kesunyian panjang

Saat tiba
Tanpa sadar
Langit sudah tak bertuan
Dan pergi dengan seutas senyum...

http://www.facebook.com/fauzing?ref=name#/fauzing?v=app_2347471856

Rabu, 10 Juni 2009

Wait Uncertainty

Menunggu ketidakpastian... Semua yang berujung pada haraapan selalu saja hilang. Keinginan untuk bersama pun sirnah sudah... Dia sayang, namun itu palsu.

Kenangan kedamaian ketika bersamanya seakan menjadi kisah saja, cerita saja. Tanpa di sadar aku akan menjauhinya, jika benar itu keinginannya. Namun sisa cinta ini tak bisa ku hapus, entah kenapa aku bisa seperti ini.

Yang ku anggap kekasihku telah pergi. Dia pun menjauh dan menjauh, aku tak bisa lagi menggapainya.

Rabu, 29 April 2009

Daftar Hitam

Photobucket
Di seberang jalan, redup oleh hitamnya malam. Lampu-lampu menemani kita, dengan nikotin dan kafein. Jalanan hanya di jajaki oleh para penjaja riski. Tanpa ada lagi padat lalu-lalang, bagi kepulan asap hitam.

Alam pikiran kita menyatu. Mimpi harus menjadi realitas agar tidak menggantung. Jutaan ketakutan takkan mampu menggoyahkan mimpi kita.

“Kita harus menuntut fasilitas?”, Ujar sahabatku dari Lamongan.
“Kita butuh Dosen yang profesional?, Kata kawanku dari Bojonegoro.
“Masak laboratorium kita kalah dengan SMA?, Lanjut temanku dari Sidoarjo.
Sahabatku yang berasal dari Ngawi tak mau kalah juga, “Statuta kita ngambang, nanti mau jadi apa kalo kita lulus?”. Kemudian kawan dari madiun menyatakan bahwa, “kita harus menuntut Dekan untuk bertanggung jawab?.”

Ketidakadilan yang selama ini tidak kita dapatkan dalam rana pendidikan tinggi, telah mengobarkan api jiwa muda kami, untuk melakukan sebuah perubahan. Malam itu kita susun sebuah strategi. Strategi bagi para penguasa yang acuh dan tak acuh pada pendidikan kami. Strategi yang dibuat atas dasar rasa yang sama di fakultas kami.

Audensi adalah pilihan awal bagi kita semua. Setting di stasiun radio, yang akan membuka tabir semua kebobrokan pendidikan kita.

Kawan dari lamongan dan Ngawi berada di ruang AC studio bersama Dekan. Kalimat demi kalimat mulai mereka susun ketika On Air. Namun jelas terdengar suara mereka menjadi sumbang, mereka tidak berteriak seperti amarah mereka yang tertuang dalam malam bersama.

Aku mencoba menunggu sampai akhir, di luar studio. Aku diam membisu, saat kawanku yang berbicara dengan Dekan di radio terbius oleh diplomasi busuk.

Beruntung, usai mereka On Air. Dekan mau duduk bersama kita di stasiun radio tersebut. Kita berdiskusi bersama, pikiranku hanya mengatakan, “Anjiing dengan semua!”.

Aku tak mampu membiarkan mulutku terbungkam. Kukatakan saja apa yang pernah aku diskusikan dengan kawanku kepada Dekan. Tanpa basa-basi, maupun diplomasi, aku berucap, “Kita butuh kejelasan statuta, kita butuh fasilitas, dan kita butuh transparansi, pak!”.

Entah apa yang ada di kepala Dekan. Spontan saja dia naik pitam, dengan bahasa-bahasanya yang mulai menyudutkanku. Dia langsung keluar ruangan dengan mengatakan, ”catat nama mahasiswa ini ke dalam daftar hitam fakultas!!".

Sahabat Pergerakan, Part Sidoarjo

Lapindo dan segala permasalahannya merupakan nuansa kelam negeri ini. Di saat air menjadi api bagi segala tanah yang menyelubunginya. Spontan telah berubah menjadi luapan amarah rakyat bagi penguasa tanah air nusantara.

Lambat, namun pasti. Tenggelam adalah jawaban bagi sebuah peradaban. Jauh di luar sana masih saja kita menapaki jejak ketidakpastian. Sahabat yang berangkat dari kota lumpur panas, mulai menyibakkan tabirnya di atas puing-puing senda gurau.

Langkah demi langkah, jelas terlihat sebuah harapan baru. Harapan akan kemerdekaan yang sesungguhnya, harapan keluar dari tirani, dan harapan untuk sang kekasih hati.

Dia yang berasal dari Sidoarjo, sahabat pergerakan. Menjalani setiap waktu, dengan kegelisahan dan pertarungan eksistensi.

Di saat aku masih menapaki langit kelam, saat itu juga dia berubah menjadi busung di seberang jalan. Melawan rongrongan harga minyak yang melambung, dia berteriak dengan perut kosong dan alas lusuh.

Di depan kampus tercinta kita selama ini. Sahabatku telah membuktikan bagaimana cara berjuang terhadap ketidakadilan. Melawan setiap jenuh dari penindasan yang terus menerus.

Sudah berapa hari ini, tidak ada arti kuliah lagi di otaknya. Dia telah tersenyum berada di gubuk kecil yang terbuat dari kain, dan di penuhi dengan semangat perubahan.

Begitu besar kasih sayangnya kepada bumi nusantara, telah ia buktikan dengan pengorbanannya. Tanpa rasa mengenal lapar, haus, sakit, terus saja dia melakukan aksi mogok makan.

Hanya rumah sakit yang menghentikannya kala itu. Rumah sakit menghentikan segala perjuangannya, dan runtuhnya bendera minyak seakan menjadi cahaya bagi sebuah perjuangan.

Senin, 20 April 2009

Two Dhe Sang Juara

Aku berlari dari hadangan lawan, mengecohnya. Bola itu masih melekat dari kakiku, kemudian aku belari meninggalkan ujung lawan, sendiri aku bawa bola itu, hingga aku hanya berhadapan dengan kiper. Kaki sedikit aku tarik ke belakang, pandanganku mengarah ke ujung sebelah kiri tiang dalam gawang. Aku menendangnya dan golll!.

Pertandingan dengan kelas dua F, aku mampu menyarangkan tujuh gol ke gawang lawan, dari sembilan gol kemenangan timku. Timku seluruhnya berasal dari kelas yang sama, yaitu kelas dua D, salah satu kelas yang ada di sekolah SMANGGI (SMAN 1 Gondanglegi).

Tiada hari tanpa pertandingan bola. Kelas dua dan kelas tiga kami lahap dengan kemenangan, tanpa satu kali pun kekalahan. Kekuatan Tim yang berasal dari kecepatan sayap kiri, kecepatan dengan dribel bola diatas rata-rata. Kemudian beck yang sangat lugas dan tangguh, serta striker dari desa Tajinan yang selalu haus akan gol.

Akan tetapi, yang membuat kami selalu berada di ambang semangat kemenangan adalah seluruh kelas 2 D. Dukungan yang tiada henti, dukungan yan disertai dengan pengorbanan, baik itu dari laki-laki maupun perempuan.

Sore itu, kami merayakan kemenangan dengan senda gurau di sebuah warung yang tak jauh dari lapangan. Warung tempat kami berkeluh kesah saat usai bermain bola.

”Hei, kelas 1 C mau menantang kita?”. Ujar kawanku dengan semangat juang yang masih menggebu.

”Kelas 2 dan 3 aja kita hajar tanpa ampun, ini lagi kelas satu mau ikut-ikutan!”. Sahut sahabatku yang duduk, sambil masih menghisap nikotin.

”Oke!, kapan?”. Tanyaku. ”Besok!”. Jawab kawanku.

-------------------------#-------------------------#-------------------------------------------------------

Pagi, hari yang cerah. Hari yang membuat adrenalinku meningkat saat belajar di sekolahan. Waktu berjalan sangat lama, saat aku menantikan siang yang akan menjadi pertandingan yang luar biasa.

Cerah pada pagi hari, berubah menjadi mendung dan gelap pada waktu siang. Seolah menandakan pertandingan akan di tunda. Tapi semangat dua Tim tidak meruntuhkan semangat juang untuk sebuah kemenangan.

”Pritt...”. Peluit telah di tiup, pertandingan di mulai.

“Golll....”.Kami kemasukan, semua terdiam oleh gol cepat lawan.
Usai gol tersebut, rintik hujan mulai membasahi lapangan. Tidak lama kemudian, Hujan deras mulai menggenangi sebagian dari lapangan. Namun, pertandingan terus berjalan, tanpa peduli hujan dan kilau petir.

Kiper kami yang sangat lengket dengan bola, tiba-tiba terdiam saat bola meluncur di sampingnya. ”Golll”. Ucap lawan kami sambil tertawa.

Dua kosong kami ketinggalan. Aku mencoba maju menjadi striker, kutinggalkan lapangan tengah dan belakang. Berat ketika membawa bola, tendanganku hanya mampu mengenai mistar gawang, keluar gawang, dan selalu gagal. Hanya satu gol, yang bisa di ciptakan oleh tim kami ketika pertandingan itu. Kami kalah.

Kutancap sepeda motorku, kutarik gas, hujan masih saja tidak berhenti.

Kekalahan yang buat aku menangis dalam kesedihan, aku hanya menyesali beberapa peluangku tadi ketika di depan gawang lawan, ”kenapa aku gagal membuahkan sebuah gol”.

Esoknya aku dan kawan-kawan tidak masuk sekolah, kita pergi ke rumah teman. Kita istirahat, kita masih sedih karena kekalahan kemarin. Namun, di rumah teman tersebut, kita banyak memahami akan kekalahan, persahabatan, komitmen dan persaudaraan.

Untuk pertandingan ulang kedua melawan kelas 1 C, kita menang dengan skor 2-1

SAYATAN PULAU PENJALIRAN

Ruangan terasa asing di sebuah rumah tua. Rumah dengan ventilasi yang hanya selebar bunga karang. Sudut ruangan nampak kelam di makan usia. Dinding-dindingnya yang telah berlumut, dengan jajaran puing-puing sampah yang berserakan di lantai.

Aku meronta kesakitan. Rantai yang menyelubungi tanganku, seakan bertambah kuat, kala kucoba lepaskan ikatannya.

Dimana aku kini. Teriakanku hanya menjadi rongrongan bisu. Tanpa ada yang mendengar. Tanpa ada yang tahu.

Tiba-tiba datang seseorang. Dia berparas lusuh, bertopi, tubuhnya yang tegap seolah menyembunyikan kerutan dari usianya yang sudah tua. Dia berjalan mendekatiku, dan terus mendekatiku, sampai hanya kakinya yang tak beralas ada di pandanganku.

”Auch, tolong, ampun, auch, ampuunn!”. ucapku saat dia menyiksaku. Tanpa sebab yang jelas aku menjadi bulan-bulanan dari kepalan tangannya. Aku di seret, di tendang, di pukul sampai tubuhku tak berdaya.

”Apa salahku? apa dosaku? Kenapa kau siksa aku?.” Gerutuku dalam hati, karena mulutku sudah tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Aku di seretnya keluar ruangan. Di tarik ke atas langit-langit rumah. Nampak jelas oleh kedua mataku, dia mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya.

Wajahnya yang seram seakan hendak menikamku. Dia membalikkan tubuh krempengku yang telanjang dada. Aku tak mampu lagi menatap wajahnya.

”Auuuch!”. Kala dia menyayat kulitku dari atas ke bawah dari punggungku.

”Auuuuch, Ampunnn, Auuuuuuuch!”. Kedua kalinya dia menyayatku.

”Auuch!”. Sayatan yang ketiga kalinya, aku terbangun dari tidur siangku. Kemudian aku terdiam, lalu aku beranjak keluar dari rumah itu. Rumah tersebut adalah rumah tua tempat aku bekerja, rumah yang terletak di pulau Penjaliran.

Kemudian aku duduk di atas bongkahan kayu di depan rumah. Tubuhku masih bercucuran keringat. Rasa sakit di punggung jelas masih ada, namun luka sayatan itu tidak ada. Hanya rasa sakit saja yang masih terasa.

PENELITIAN DI ATAS ATAP GEDUNG KAMPUS

Kompetisi untuk sebuah penelitian selalu menantang kami dalam berkarya. Penelitian merupakan salah satu bentuk karya bagi kaum muda yang berada di lumbung Kampus.

Kampus kami berada di tengah kota Malang. Kampus yang bernama STAIN Malang. Kampus tempat kami berkarya, meskipun alat dan fasilitas sangatlah minim.

Kami tidak punya lahan untuk penelitian, kami tidak punya dosen yang mau di ajak untuk penelitian di luar bidang studi, dan kami hanya punya labolatorium kecil yang tidak lengkap.

Sebagai mahasiswa biologi, tentunya kami berharap mendapatkan lebih pengetahuan tentang seluk-beluk biologi di kampus. Namun tanpa mau mengerti, pengajar kami hanya menjalankan rutinitasnya dalam mengajar, tanpa mau mengerti apa yang ada di benak kami.

Lelah kami mengkritik, yang kami dapat hanya ancaman. Kesal kami di buat oleh birokrasi yang terus saja mengeluarkan taringnya, ketika kami meuntut fasilitas.

Sampai senior kami di biarkan bertarung dengan sesama mahasiswa dalam memperebutkan lahan di belakang kampus. Jalas saja kami kalah, musuh senior kami saat itu adalah Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam). Mahasiswa tidak punya keberanian dalam memperebutkan lahan tersebut, kami hanya bisa mengalah dan kalah.

Sebagai yunior saat itu, aku masih semester tiga. Aku hanya meradang ketika kami tidak mendapatkan apa-apa tentang biologi di kampus tercinta kami.

Masih teringat jelas di kepala, ketika saya tergabung dengan Tim penelitian yang ada di kelas. Kami melakukan penelitian tentang biji Kacang ijo. Penelitian yang kami lakukan bertujuan untuk di ikutkan lomba pada penelitian yang di adakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Biologi (LP2B) Malang.

Tiap malam, kita berkumpul di masjid dalam kampus. Kita membahas penelitian yang akan kita lakukan.

Muncul keanehan ide dari kawan-kawan atas keterbatasan fasilitas yang ada di kampus. Kita menaruh bahan penelitian tersebut, tepat berada di gedung belakang kampus.

Tiap malam teman kami memanjat atap gedung untuk melihat perkembangan dari hasil pertumbuhan biji kacang hijau. Dengan berbagai perlakuan didalamnya, dan terus memantau seolah satpam kampus terbius dan tidak memperhatikan apa yang kami lakukan.

Kalau di lihat-lihat, kita seperti pencuri, yang harus memanjat gedung tiap malam. Memanjat setiap kebodohan, demi sebuah harapan akan perubahan.
Penelitian layaknya penjahat tersebut membuahkan hasil. Kami berhasil mendapatkan Juara ke-2, dari sekian peserta yang ikut di dalamnya.

Minggu, 19 April 2009

"Aku Nggak Virgin Lagi" part 1

Berada di tiang-tiang intelektual, dengan seutas tali pembunuh bagi kesucian. Anak manusia yang terlahir begitu mulia tanpa dosa, namun hanya menangis tanpa sedih. Jalan yang di tempuhnya begitu berani dalam mengitari ketidakpastian.

Dentuman musik yang mempertemukan kita. Perempuan yang singgah dalam pejalanan terjal dan berliku.

Masih nampak matanya yang penuh tanya, bingung, sedih tanpa harap. Mencoba bertahan dari ketidakadilan dalam keluarganya.

Keluar, dan jauh dari kasih sayang. Lari namun hanya sebatas lika-liku sebuah harapan. Adik, dia hanya bisa menjadi adikku, tidak lebih. Hal itu, yang diinginkan ketika perahu sudah berada ditengah perjalanan.

Ombak selalu menghantamnya. Waktu demi waktu terus saja dia bermain dengan hempasan ombak, tanpa mau mengerti akan bahayanya, ketika ombak tersebut telah menggulung satu nyawa kemarin.

Namanya Larasati, nama yang indah, seindah parasnya yang cantik. Beda dengan perempuan lain, jiwanya yang setegar batu karang, hatinya yang sehalus sutra seakan mampu mengibaskan derai hati lawan jenisnya.

Ketika makan, Larasati seolah sangat menghargai apa yang ada di depannya. tidak ada secuil nasi pun yang keluar dari bibir manisnya. Semua makanan akan sangat berharga tatkala berada disisinya.

Malam menjadi kehidupan bagi Larasati. Berjalan mengelilingi kilau lampu-lampu pijar di batas kota. Mencari kedamaian dengan cerita-ceritanya yang luar biasa.

Satu bulan aku bersama dia disini. Satu bulan aku berkelana mencari titik sayu dari kedua bola matanya. Hingga panggilan alam menuntunku untuk pergi darinya, Bekerja dan mulai berpetualang di luar kota. Bagi Larasati, pergiku adalah bagian yang membuat lara. Namun aku selalu mencoba mengingatkan bahwa dia akan tenang di samping kawan-kawanku. Aku pergi karena aku harus bekerja, layaknya kehidupan yang menuntut setiap insan untuk ke arah kesana.

Sabtu, 18 April 2009

Sahabat Pergerakan, Part Blora 2

Lama tidak pernah bersua dalam detak pergerakan. Sahabat yang telah pergi dan jauh dari hiruk pikuk Pergerakan kota Malang. Aku dan ke-tiga sahabatku yang bertahan disini terus saja bergumam akan keberadaannya.

Kenapa cahaya yang terang benderang keluar begitu cepat? Kami masih butuh pemikirannya, kami masih memerlukan kreatifitas dan jiwa mudanya. Sahabat yang pergi begitu cepat meninggalkan kami seakan telah membius rusuk setiap kepribadian yang telah kita bangun bersama.

------------------------#---------------------------#---------------------

Suara-suara sumbang yang berdatangan pun muncul dengan dering yang membuat kami tersenyum. Menurut kabar, Anak Blora, Anak Jati tersebut telah menjadi seorang pemimpin di kota minyak. Pemimpin perisai kuning, pemimpin bagi perubahan di kota Bojonegoro.

Tidaklah mudah menggapai cita yang telah terbelenggu. Di tengah kesederhanan dari reruntuhan bola-bola api, dan terpaan angin kencang telah membuat Pohon Jati tersebut kokoh, sampai-sampai gergaji mesin kebiadaban tidak mampu menebangnya.

Semakin kuat, semakin hebat, semakin luar biasa, tatkala kabar yang berdatangan ke telinga kami tentang sahabatku Mustakim. Kami merasa kecil dan kerdil kala mendengar kabar tersebut, semangat dan jiwanya yang mampu menggelontorkan peradaban, telah memicu kami yang di Malang untuk terus berkarya dan mengabdi bagi merah putih.

Kamis, 16 April 2009

Sahabat Pergerakan, part Blora

Semua berangkat dari pergerakan. Tanpa batas menembus kerajaan langit. Empat sahabat dari Galileo, yang telah menginspirasi perjalanan Air Sunyi. Berjalan bersama di ruang Biologi, sebuah Perguruan Tinggi di Malang. Dua berasal dari kota minyak, Bojonegoro, mereka berdua berparas pesantren, Mubin dan Muslih. Hutan jati gundul, sang penguasa Blora, Penuh retorika dalam bingkai arus perubahan, bernama Mustakim. Penghuni Lumpur Lapindo, Ciri khas apologi dengan nuansa akademis, dia Bernama Irul.

Tahun 2001, ditahun ini ikatan mulai di bentuk. Ikatan yang selaras akan dinamika kaum muda. Haus akan perubahan, gila akan ilmu, dan rentan dengan keretakan. Aku tidak pernah berpikir, selama kuliah akan dipertemukan dengan 4 sahabat ini.

Berlari dan berlari mengejar semua bidang organisasi. Mulai dari intra, ekstra sampai organisasi tanda tanya. Di mulai dari warna Kuning, di gembleng oelh bapak pergerakan, yang bernama Galileo.

Benar-benar rakus akan ilmu, ketika kita bersama. Berjalan dan membunuh kebiadaban ketidakadilan. Sampai tiba sang Blora pergi dan meninggalkan kami.

Tak semudah berjalan bersama, pergi tanpa mengisyaratkan. Seolah semua telah tertasbih dalam perisai berwarna kuning. Tapi kami mesti terus berjalan, meski penguasa hutan jati telah pergi.

Jumat, 10 April 2009

Jalur Sungai di Pedalaman

Jauh dari daratan nampak elok. Hijau tanpa gedung-gedung bertingkat. Di ketinggian pulau Kalimantan kutatap dari kaca burung besi ini.

Tak pernah ku mengerti, 2 tahun yang lalu aku ketempat ini lewat jalur laut. Namun layaknya burung terbang di angkasa, satu jam saja kakiku sudah berada di sini.

Kulalui sendiri dengan tujuan yang nampak jelas nan bercahaya. Kulipat setiap guratan mata di setiap ujung jalan.

Beda dengan di Jawa, tranportasi dengan perahu merupakan ciri khas daerah bersungai. Jalur demi jalur dipenuhi dengan jembatan. Sang pemangsa pun selalu tersenyum mengitari perjalanan ini. Predator utama, sang elang.

Ikan sungai menjadi fokus bagi sang elang. Memangsa demi keseimbangan ekosistem. Lain halnya dengan manusia, yang terus-menerus memangsa hanya demi perut yang buncit.

Kokoh nan anggun burung ini, tak kenal lelah menemani setiap petualanganku di Kalimantan.

Namun saat ku lihat manusia diseberang hutan, di liang pedesaan yang jauh dari kota. Nampak jelas raut muka nan muram. Tak sanggup aku menatapnya, seolah di kebiri oleh bangsanya sendiri.

Menata bibit sawit, jauh dari keluarga, bekerja dan bekerja. Tidak ada kampus, tidak ada Mal, Tidak ada landasan pesawat terbang, dan gedung-gedung menjulang tinggi. hanya di temani keringat dan harapan akan masa depan.

Mereka berjuang dalam hidup, demi sesuap nasi, seuntai cita sang anak mereka. Jauh di pedalaman, aku menanyakan tentang keadilan. Keadilan yang selama ini selalu aku dengarkan, bahkan aku hafalkan mulai dari kecil. "KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDOSESIA."
(10 April 2009)

Kamis, 02 April 2009

Malaikat Jalanan

Kesadaran akan eksistensi yang semakin rapuh. Dalam perjalanan sunyi tak henti-hentinya aku berpikir akan kekuasaan Sang Pencipta. Mungkin ini entitas atau bagian hampa semata.

Di kota semarang, Jawa tengah. Dalam perjalanan pencarian fakta. saya berada di ruang penuh gedung-gedung. Tidak tahu harus kemana lagi. Saat pagi menjelang, kebimbangan dalam kesendirian.

Aku rapikan setiap rongsokan tubuh ini. Mulai ku buka pintu, dan keluar. Hari ini aku harus bergegas mencari berita, kepada lembaga pemerintahan di sana.

Masih pagi, jarum jam menunjukkan pukul 6 waktu Indonesia bagian barat. Aku naik Bis kecil yang menuju ke kota bagian barat, masih di kota Semarang. Aku masih baru disini, aku di putar-putar bak anak kecil bermain gasing. sampai tiba sang Ibu datang.

Ibu penjual kopi, di tengah kota. Kulihat dia sendiri, nampak membersihkan sisa-sisa kotoran di atas piring dan gelas. Pelan aku menuju dia, dan membeli secangkir kopi. Dengan lembut sang Ibu tersebut membuatkan kopi.

Sembari beliau melihatku aneh, karena saat itu aku seperti orang tak tahu arah. "Mau kemana Dik?"(Sahut sang IBu.

Aku menjawab," Saya mau ke Dinas Kehutanan, di Jalan Dr Soetomo?". "Langsung saja naik bis kuning, nanti lewat sini, tunggu saja bentar?"(jawab sang Ibu, sembari menunjukkan arah tujuanku)

Jauh di dalam hati, aku tersenyum. Tiba-tiba gelas yang berisi kopi, tepat di samping aku jatuh. Seketika aku minta maaf, kemudian aku keluarkan uang 5ribu untuk mengganti gelas yang pecah.

Namun Ibu tersebut menolak uang lima ribu yang aku berikan. beliau berkata:" harga gelas ini cuma 1500 mas, Jadi 1500 saja".

Selama aku di perjalanan belum ada seorang yang seperti itu. Seorang Ibu yang hanya berjualan kopi, namun sangat jujur dan menghormati orang yang jauh dan belum dia kenal.

Andai beliau membaca tulisan ini, aku ingin berucap terima kasih. Ibu adalah orang mulia di Sisi tuhan.

Senin, 30 Maret 2009

Maen Bola

Bola, bulat, bundar, dijalan ku mainkan. Bola, wasit, sedih, cita, di lapangan aku mainkan. Hijau padang alunkan aku dalam keriangan sang bola.

Kugariskan pada sepatu bola, sepatu yang berisi doa pengharapan. Kelak aku akan bermain di Old Trafford. Suatu saat nanti, aku akan menjadi pemain Timnas.

Waktu berjalan dengan nafas kecil pada ujung rongga harapan. Senantiasa belajar untuk masa depan, namun terbengkelai oleh jiwa bola. Dua-duanya menjadikan masa mudaku begitu sempurna. Hari-hari dengan keringat kala senja, dan fajar dan siang berseragam sekolah.

1 tahun, 2 tahun, 3 tahun... berjalan terus sampai pendidikan SMAku usai. Di ujung masa SMA, ku mulai terserang tifus, penyakit yang telah menimpa ususku, hingga ku terdiam di rumah putih berpenghuni dokter dan suster.

Sakit merobohkan semua cita yang terbangun, hingga semua berubah. Sampai di Perguruan Tinggi semua, sirna, musna, bola-bola mereka. Bukan milikku.
30-3-2009

Minggu, 29 Maret 2009

Air Sunyi

"Sebut saja aku dengan Air Sunyi. Mengalir tiada henti. Aku terlahir di Malang, tiga bersaudara. Berangkat dari keluarga sederhana, dari sebuah desa di ujung batas merah."

Hari ini sangat mengganggu segala aktifitasku. Mulai kuhidupkan kuda mesin kala pagi menjelang. Tak kuhiraukan suara-suara tubuhku yang sudah terasa kesakitan.

Sudah 4 hari yang lalu, demam ini gak turun-turun. Panas tubuh seolah tak berefek pada rotasi hari ini.

30 Maret 2009, mulai menjenuhkan. Rutinitas, mengajar, malang, naik motor. Semua seakan penuh dengan kebohongan, penuh dengan retorika, penuh dengan sampah berdasi, penuh dengan kepalsuan.

Aku hanya ingin mengisi Air Sunyi ini, dengan kisah masa lalu. Masa sunyi, layaknya kedalaman Air yang kelam tanpa cahaya.

Nulis pesan di sini.....


ShoutMix chat widget